Jalan Golongan Yang Selamat 27

KUFUR BESAR DAN MACAMNYA
Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Kufur besar menjadikan orang yang bersangkutan keluar dari Islam. Kufur besar yaitu kufur dalam itiqad (kepercayaan). Macam-macam kufur ini ada banyak. Di antaranya:

1. Kufur dengan cara mendustakan:

Yaitu dengan mendustakan (tidak mempercayai) Al-Quran atau hadits, atau dengan mendustakan sebagian yang ada pada keduanya. Hal itu berdasarkan firman Allah,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" (Al-Ankabuut: 68)

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
"Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan kufur (ingkar) terhadap sebagian yang lain?" (Al-Baqarah: 85)

2. Kufur karena enggan dan takabur, padahal sebenarnya ia percaya:

Yaitu tiadanya ketundukan pada kebenaran meskipun ia mengakui adanya kebenaran tersebut. Hal itu seperti kufurnya Iblis. Dalilnya adalah firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآَدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam. Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 34)

3. Kufur dengan cara ragu-ragu terhadap adanya hari Kiamat, masalah- masalah ghaib atau mengingkari dan tidak mempercayainya:

Allah berfirman,

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا، قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
"Dan Aku tidak mengira hari Kiamat itu akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia ber-cakap-cakap dengannya, Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?" (A1-Kahfi: 36-37)

4. Kufur dengan cara berpaling:

Yaitu berpaling dari ajaran Islam serta tidak mempercayainya. Dalilnya adalah firman Allah,

وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ
"Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperi-ngatkan kepada mereka". (Al-Ahqaaf: 3)

5. Kufur dengan cara nifaq:

Yaitu menampakkan kepercayaan terhadap Islam dengan lisan, tetapi tidak mengakuinya dalam hati serta menyelisihinya dalam amal perbuatan. Hal ini berdasarkan firman Allah,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آَمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
"Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti". (Al-Munaafiquun: 3)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
"Di antara manusia ada yang mengatakan, Kami beriman kepa-da Allah dan Hari Kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman." (Al-Baqarah: 8)

6. Kufur dengan cara menentang:

Yaitu orang yang mengingkari sesuatu dari agama yang diketahui secara umum. Seperti rukun Islam atau rukun iman. Sebagaimana orang yang meninggalkan shalat karena mempercayai bahwa shalat itu tidak wajib. Maka orang tersebut adalah kafir dan murtad dari agama Islam.

Demikian pula halnya dengan seorang hakim (penguasa) yang menentang hukum Allah. Berdasarkan firman Allah,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
"Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang Kafir." (Al-Maaidah: 44)

Ibnu Abbas be

Doa Nabi Ibrahim Memohon Keturunan Anak Saleh



doa nabi ibrahim dalam api, doa nabi ibrahim ingin punya anak, doa nabi ibrahim hasbunallah, doa nabi ibrahim untuk anaknya, doa nabi ibrahim ketika dibakarNabi Ibrahim AS dikaruniai anak ketika beliau berusia 86 tahun, sekitar 40 tahun setelah beliau menikah. Mula-mula beliau menikah dengan Sarah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, beliau menikah dengan Hajar. Dari Hajar-lah beliau mendapat anak pertama, yaitu Ismail bin Ibrahim. 

Nabi Ibrahim as setelah bertahun-tahun menikah dan hingga mencapai usia lanjut masih belum dikarunia seorang anak, mengangkat tangan berdoa dan memohon anak saleh:


rabbi hab lii mina alshshaalihiina
 

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaaffaat [37]: 100).

Allah swt pun memberikan berita gembira kepada beliau as bahwa doanya terkabulkan dan seorang putera yang sabar akan dianugerahkan kepada beliau as dan nabi Ismail as akan terlahir dengan segera.

Setelah nabi Ibrahim as hijrah ke tanah Palestina, Allah swt menganugerahkan nabi Ismail as kepada beliau as dan Hajar, namun karena desakan Sarah beliau as terpaksa membawa nabi Ismail dan ibunya, Hajar ke tempat lain. Nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail pergi sehingga sampai di Mekah dan dengan petunjuk Jibril berhenti di sana. Nabi Ibrahim as membangun sebuah tenda dan memberikan naungan kepada keluarga di dalamnya sementara beliau as sendiri kembali ke tanah Palestina.

Kehendak Ilahi menginginkan supaya Ibrahim as juga memiliki putera dari Sarah. Maka Sarah mengandung nabi Ishaq. Nabi Ismail dan ibunya berada di Mekah sementara nabi Ishaq dan ibunya di tanah Palestina dan nabi Ibrahim as pun pulang pergi di antara keduanya. Tanah Palestina sebuah tempat berhawa dan udara baik serta bertanah subur. Namun di Mekah tidak terdapat air, tumbuhan, pepohonan dan pula tanah yang datar.

Tags yang terkait dengan doa nabi ibrahim: doa nabi ibrahim dalam api, doa nabi ibrahim ingin punya anak, doa nabi ibrahim hasbunallah, doa nabi ibrahim untuk anaknya, doa nabi ibrahim ketika dibakar, doa nabi ibrahim zuriat, doa nabi ibrahim untuk dapat anak, doa nabi ibrahim anak.

Doa Shalat Dhuha

doa, shalat, dhuha, mustajab, doa shalat
 Berdoa adalah kebiasaan yang baik. Apalagi bila doa itu dipanjatkan usai melakukan shalat. Posting kali ini saya akan menampilkan tentang doa usai shalat dhuha.

Doa sesudah sholat dhuha tidak dibatasi. Kita boleh berdoa apa saja asalkan bukan doa untuk keburukan. Doa yang terkenal dalam mazhab Syafi’i ada pada paragraf berikut. Selain doa itu, kita boleh membaca doa yang kita sukai. 

Namun, karena ada aturan mazhab, maka hendaklah kita jangan melupakan agar memulai doa itu dengan menyebut nama ALLAH, memuji syukur kepada-NYA dan kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
doa, shalat, dhuha, mustajab, doa shalat
Doa Usai Shalat Dhuha
 ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA ‘UKA - WAL BAHAA ‘A BAHAA
‘UKA – WAL JAMAALA JAMAALUKA – WAL QUWWATA QUWWATUKA –
WALQUDRATA QUDRATUKA – WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.

ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU – WA IN

KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU – WA IN KAANA MU’ASSARAN FA
YASSIRHU – WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU – WA IN KAANA
BA’IIDAN FA QARRIBHU,

BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WAJAMAALIKA, WA QUWWATIKA, WA  QUDRATIKA. AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.


ARTINYA:

“Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU – dan kecantikan
adalah kecantikan-MU – dan keindahan adalah keindahan-MU – dan kekuatan
adalah kekuatan-MU – dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU - dan perlindungan
itu adalah perlindungan-MU.

Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah – 

Dan jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah – dan jikalau sukar maka
mudahkanlah – dan jika haram maka sucikanlah - dan jikalau masih jauh maka
dekatkanlah.

Dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan Dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.

Membela Dakwah Salafiyah dan Ulama Umat dari Kenistaan Pemikiran Firanda Bagian Pertama

PENULIS : Al-Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ، وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ
“Seorang mukmin adalah ghirrun ‘gampang tertipu’ lagi dermawan, sedangkan seorang fajir adalah khibbun ‘penipu’ lagi la`îm ‘keji, hina, rendahan’.” [1]
Di antara tabiat seorang mukmin adalah gampang tertipu dan kurang menangkap adanya kejelekan dan tidak membahas kejelekan itu. Bukan karena dia tidak bisa mengetahui kejelekan tersebut, melainkan karena kedermawanan jiwanya dan akhlaknya yang mulia. Itulah makna ghirrun. Sedangkan khibbun maknanya adalah kebalikan makna ghirrun.
Hadits di atas mungkin bisa menggambarkan keadaan yang menimpa Saya terhadap perbuatan Ustadz Firanda -semoga Allah Ta’âla memberi hidayah kepadanya dan membimbingnya ke jalan yang lurus-.
Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa, di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya paling jelek.

Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, kurang akal, dan keras kepala.
Di antara makar Ustadz Firanda adalah mendatangi guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân -semoga Allah Ta’âlâ selalu menjaga beliau dan memanjangkan umurnya dalam kebaikan Islam dan kaum muslimin- dan memberikan laporan sepihak kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh. Setelah mendapat hal yang dianggap bisa mendukungnya, Ustadz Firanda menyebarkan hal tersebut di internet di bawah judul “ADA APA DENGAN RADIO RODJA & RODJA TV? (Nasehat Syaikh Al-’Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohullah agar para dai ahlus sunnah bersatu)” dengan menarik beberapa kesimpulan aneh sembari dia sendiri sebenarnya tidak mengindahkan wejangan Syaikh Al-Fauzân hafizhahullâh.
Kendati demikian, Saya masih berbaik sangka bahwa mungkin benar Ustadz Firanda dan kawan-kawan di Rodja menginginkan kebaikan dan akan memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Dibangun di atas sangkaan baik tersebut dan paksaan Ustadz Firanda untuk membantahnya, Saya pun menurunkan tulisan dengan judul “Ada Apa dengan Radio Rodja dan Rodja TV? (Siapkah Anda Mendengar Jawaban?)”.
Insya Allah, kandungan bantahan tersebut akan Saya susun kembali dalam bantahan-bantahan yang akan datang.
Ketika Ustadz Firanda menarik kembali tulisannya, Saya menganggap hal tersebut sebagai suatu tanda kebaikan.
Waktu terus bergulir bersama dengan kesibukan Saya yang padat. Akan tetapi, alhamdulillah, Saya akhirnya menemukan waktu untuk menulis surat kepada guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh.
Surat tersebut Saya kirim melalui e-mail dengan perantara salah seorang ikhwah -semoga Allah Ta’âlâ membalas kebaikan untuknya-, dan jawaban Syaikh Saya terima langsung tatkala Saya mengunjungi beliau di kantor Al-Lajnah Ad-Dâ`imah di Tha`if.
Setelah Saya pulang ke Indonesia, pada Jum’at, 28 Juni 2013, Saya mengirim surat Saya beserta jawaban Syaikh Al-Fauzân hafizhahullâh kepada Ustadz Firanda melalui e-mail, dengan harapan agar Ustadz Firanda dan siapa saja yang sepemikiran dengannya mengambil manfaat dari surat tersebut dan jawaban Syaikh.
Pada hari itu, juga Ustadz Firanda menjawab sebagai berikut, “Alhamdulillah antum telah kirim surat ke syaikh fauzan hafizohullaoh, hanya saja yang ana syangkan antum tidak mengabarkan ke ana surat tersebut untuk kita susun bersama sebelum antum kirim ke syaikh sholeh. Tdk sebagaimana yg kita sepakati, akan tetapi alhamdulillah jawaban syaikh sudah jelas, dan harap antum laksanakan wasiat syaikh.”
Saya melihat ada hal aneh dari ungkapan di atas maka Saya membalasnya pada tanggal yang sama sebagai berikut,
“Subhanallahu! Hal yang tidak masuk akal ketika antum mendatangi Syaikh dan memberi data sepihak, lalu ketika memberi jawaban antum mengharuskan ana untuk menyusun jawaban dengan menyertakan antum. Hal tersebut tidak pernah ana sepakati dengan antum. Yang ana sampaikan kepada antum adalah setelah ana membuat jawaban kepada Syaikh, kita boleh duduk untuk menyusun hal yang perlu dipertanyakan bila memang dipandang ingin memperbaiki.
Kemudian ana mengharap antum dan ikhwah di Rodja untuk memperhatikan catatan-catatan syar’iy yang ana berikan kepada Syaikh, karena saya tidak memahami ada dari keterangan Syaikh menyalahkan catatan yang ana berikan, dan beliau menghargai apa yang telah ana lakukan dengan doa beliau di akhir jawaban, dan setelah menerima jawaban, ana juga menjumpai beliau di Thaif dan beliau sama sekali tidak mengesankan ada kesalahan dari catatan yang ana berikan, namun beliau dalam jawabannya memberikan apa yang beliau pandang baik untuk arahan dakwah ana di masa mendatang.
Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.”
Sudah merupakan tabiat seorang Ahlus Sunnah untuk cinta hidayah kepada seseorang dan agar orang itu kembali ke jalan yang lurus. Saya juga masih membuka waktu untuk duduk dengan mereka menuju kepada arah perbaikan jika mereka memang serius untuk hal tersebut.
Demikian pula, sebagian kawan di Jakarta meminta izin untuk menyerahkan surat Saya ke Syaikh Shalih Al-Fauzân tersebut kepada sebagian ustadz pemateri di Rodja -yang memang meminta surat itu-. Tentunya Saya mengizinkan dengan harapan agar mereka mendapat hidayah dan memperbaiki kesalahan mereka.
Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.
Saya juga tidak berniat untuk menerjemahkan surat Saya –sebagaimana Ustadz Firanda telah lancang melakukannya-. Kalau suatu saat Saya harus memberi penjelasan rinci, tentu akan Saya bahasakan dengan bahasa yang cocok untuk dibaca oleh khalayak umum tanpa mengurangi kandungan dan maknanya, bahkan mungkin masih banyak hal yang perlu Saya tambahkan.
Waktu terus bergulir hingga, pada Kamis, 3 Oktober 2013, Ustadz Firanda kembali bersurat, “Aslamu’laikum, ustadz insya Allah ana akan posting kembali tulisan tentang ada apa dengan radio rodja, mengingat kawan-kawan antum berbicara seenaknya tentang radiorodja yg menebarkan sunnah. kalau antum ingin posting kembali tulisan bantahan antum tafaddol. Oh iya atau bila perlu dan sangat perlu antum terjemahkan surat antum ke syaikh sholeh fauzam, agar menjadi pembelajaran. Jika antum tdk punya waktu dan kesempatan insya Allah nanti ada yang nerjmahkan. Baarokallahu fiik”.
Saya menjawabnya sebagai berikut,
“وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Insya Allah saya mengamalkan Nasihat Syaikh Al-Fauzan untuk saya, kalau terjadi kesalahan yang perlu diingatkan, tentu saya akan membantahnya dengan batasan yang dinasihatkan oleh Syaikh.
Tahdzir yang antum singgung dari orang lain, saya rasa bukan keadilan mengaitkannya dengan saya.
Tapi saya nasihatkan setiap orang untuk ‎menghormati kebenaran dan nasihat Ahlul Ilmi.
Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’ dan Syaikh Ubaid Al-Jabiry sebagaimana yang antum ketahui, sebaiknya seluruh hal tersebut menjadi ainul I’tibar.
Kalau memang ada hal yang harus diperbaiki, silakan diterima dengan sikap seorang yang mengenal Sunnah dalam menghormati kebenaran. Jika ada hal yang antum anggap keliru, silakan diselesaikan di tingkatan ulama agar penyelesaiannya lebih jelas, lebih diterima oleh semuanya, dan lebih menjaga kehormatan para ulama. Semoga Allah membimbing kita semua di atas jalan yang lurus.”
Ustadz Firanda kembali membalas, “Jazaakallahu khoiron ustadz, tentunya segala masukan jika memang merupakan masukan yg benar dan disepakati maka akan sangat mudah diterima radiorodja. Adapun tuduhan ngawur tanpa bukti dan dipaksa paksakan, atau mengkait-kaitkan dengan paksa terhadap takfiriyin dan yang lainnya, atau memaksakan pendapat masalah khilafiyah maka tentu tdk ada pemaksaan terhadap radiorodja. Baarokallahu fiikum wa nafa’allahu bikum.”
Sebenarnya, solusi yang Saya berikan Saya anggap sudah cukup baik sebab sudah banyak ulama yang men-tahdzir Rodja. Oleh karena itu, bila merasa keberatan, Ustadz Firanda (dan siapa saja yang sepemikiran dengannya) boleh langsung mendatangi ulama-ulama tersebut atau menghubungi ulama yang selama ini memberi andil dalam penyajian materi di Rodja agar terjadi komunikasi antara ulama yang men-tahdzir dan yang mendukung. Kedua belah pihak yang berada di Indonesia -yang men-tahdzir dan yang di-tahdzir- tentunya harus bersiap memberi data jika para ulama tersebut memerlukan data itu.
Demikianlah anggapan Saya jika Ustadz Firanda memang menghendaki kebaikan dan menghargai kebenaran serta menghormati para ulama.
Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.”
Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya.
Pada mulanya, ketika tulisan Ustadz Firanda tersebut Saya baca, Saya tidak berselera untuk membantah tulisan itu. Beberapa Ustadz yang telah mengenal baik watak Ustadz Firanda juga menasihatkan untuk tidak menanggapi tulisan tersebut. Pada waktu itu pula, Saya sedang sibuk mempersiapkan perjalanan ke Arab Saudi guna menunaikan ibadah haji.
Selanjutnya, Ustadz Firanda menyambung tulisan-tulisannya hingga bagian ke-6, yang mengandung pemikiran sesat terhadap manhaj Salafy dan kedustaan jelas terhadap para ulama. Hal tersebut memaksa Saya untuk menulis bantahan ini sebagai pembelaan terhadap manhaj Salafy dan para ulama Sunnah. Dari tulisannya, tampak sekali bahwa Ustadz Firanda sangat bangga jika ada yang membantahnya.
Saya juga memuji Allah Ta’âlâ yang menampakkan kedok Ustadz Firanda dalam tulisan-tulisannya sehingga semakin tampak jelas inti permasalahan terhadap banyak ustadz yang sebelumnya masih berharap agar Ustadz Firanda, dan orang lain yang sepemahaman dengannya, masih bisa diperbaiki.
Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu.
Berikut beberapa poin yang menjelaskan hal tersebut.

Pertama: Seputar Penerjemahan Surat Saya
Saya tidak melarang siapa saja yang ingin mengambil faidah dari tulisan Saya kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh tentang orang-orang Rodja dalam skala terbatas, sebagaimana Saya juga memberi surat Saya beserta jawaban Syaikh kepada beberapa orang ustadz agar ustadz-ustadz tersebut mengambil manfaat dari surat itu. Namun, untuk penyebaran secara umum, Saya perlu meminta izin secara khusus dari Syaikh karena memang surat tersebut bersifat pribadi. Inilah salah satu adab yang tidak pernah dipikirkan oleh Ustadz Firanda. Sebagaimana penyebutan pembicaraan dengan Syaikh pada bagian pertama tulisannya ketika awal kali mendatangi Syaikh, Ustadz Firanda juga tidak pernah menyebut izin merekam dan menyebarkan pembicaraan Syaikh. Padahal, Kami sangat mengetahui salah satu kebiasaan Syaikh yang tidak mau direkam dalam hal-hal yang seperti itu.
Dimaklumi pula bahwa Saya menulis surat tersebut kepada seorang alim dengan bahasa dan penyampaian yang tentunya akan dimaklumi oleh orang-orang yang berilmu, dengan bentuk yang lebih transparan agar diharapkan ada nasihat dan wejangan jika memang ada hal yang perlu diperbaiki.
Setiap orang yang berakal akan memahami bahwa, dalam surat tersebut, ada beberapa hal yang perlu dibahasakan dengan bahasa yang cocok untuk dibaca oleh khalayak umum. Kelihatannya, Ustadz Firanda yang berakal pendek ini tidak berpikir ke arah sana.
Karena Ustadz Firanda telah lancang dalam menerjemah dan menyebarkan surat tersebut, ada dua hal yang perlu Saya ingatkan:
- Bukanlah kebiasaan Saya di depan umum untuk menyebut siapa saja yang meminta nasihat kepada Saya, siapa saja yang sering menghadiri pengajian, dan seterusnya, baik dari kalangan orang penting, pembesar negara, maupun kalangan lainnya. Adalah hal wajar jika Saya menyebut sebagian orang kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân dengan harapan agar mendapat nasihat dan wejangan kalau memang ada hal yang perlu diperbaiki. Berbeda dengan Ustadz Firanda yang gemar bercerita bahwa dia telah bertemu dengan Menteri Fulan dan selainnya sebagaimana yang tampak dalam beberapa tulisannya.
- Dalam penyebutan nama dan yayasan di khalayak umum, Saya hanya dalam batasan seorang dai yang memperingatkan umat terhadap hal yang bisa membahayakan mereka dari sisi keagamaan. Karena, seorang dai bukanlah pemerintah bukan pula penguasa yang bisa memenjarakan atau menjatuhkan sanksi hukum. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzân dalam jawaban beliau, “Karena engkau tidak berkuasa untuk melarang orang yang menyelisihi.”
Berkaitan dengan Ustadz Abu Nida, sebagian asatidzah yang pernah mengajar di Ma’had Jamilurrahman -yang juga merupakan guru-guru Ustadz Firanda dahulu- telah menulis dalam bahasa Arab bukti-bukti kuat hubungan Ustadz Abu Nida dengan orang-orang yang menganut paham takfiry. Insya Allah, tulisan tersebut akan disampaikan kepada ulama-ulama yang biasa mendatangi ma’had Ustadz Abu Nida sebagai nasihat dan bahan masukan. Semoga Allah Ta’âlâ memudahkan hal ini.


Kedua: Memahami Jawaban Syaikh dengan Seenaknya Sendiri
Jawaban guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, Saya terjemahkan sebagai berikut.
Wa’alaikumussalâm Warahmatullâhi Wabarakâtuh. Arahan (yang diminta) adalah sebagai berikut,
1. Hendaknya engkau terus berlanjut di atas jalanmu dan tidak menoleh atau memperhatikan sanggahan-sanggahan para penyanggah, kecuali sanggahan yang benar lagi bermanfaat maka ambilah hal tersebut karena kebenaran adalah barang hilang milik orang yang beriman.
2. Janganlah engkau masuk bersama manusia dalam pergulatan dan pertikaian yang akan menyibukkanmu dari melanjutkan jalanmu.
3. Janganlah engkau sibuk mencela pribadi-pribadi atau jam’iyyah-jam’iyyah. Adalah hal yang memungkinkan bagimu untuk nasihat yang bersasaran tepat lagi hikmah. (Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik) disertai dengan kesabaran.
4. Jawablah syubhat-syubhat dengan ilmu dan hikmah serta penjelasan terhadap kebenaran karena engkau tidak berkuasa untuk melarang orang yang menyelisihi.
Semoga Allah memberi taufiq kepadamu dan memberkahi usaha-usahamu.
Ditulis oleh:
Shâlih bin Fauzân Al-Fauzân
ttd
3/8/1434 H
Dalam memahami jawaban Syaikh Al-Fauzân di atas, sebagaimana biasanya Ustadz Firanda menarik kesimpulan aneh. Setelah menyebutkan poin ke-2 dan ke-3 jawaban Syaikh, dengan bangga dan secara tendensius, Ustadz Firanda berkata, “Harapan kami Al-Ustadz Dzulqornain menjalankan washiat Syaikh Sholeh Al-Fauzan, untuk tidak sibuk mencela para dai dan yayasan-yayasan.” (Demikian dengan cetak besar dari Ustadz Firanda dalam tulisannya di http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/534-ada-apa-dengan-radio-rodja-rodja-tv-bag-2-surat-al-ustadz-dzulqornain-kepada-syaikh-sholeh-al-fauzaan).
Untuk mengungkap pemahaman pendek Ustadz Firanda, Saya perlu menjelaskan beberapa perkara:
Pertama, sangat tampak bahwa Ustadz Firanda hanya mencari apa-apa yang mendukung dirinya saja. Ustadz Firanda hanya memperhatikan poin ke-2 dan ke-3 saja dengan memberi garis bawah dan cetak besar seenaknya, padahal dalam tulisan tangan Syaikh Al-Fauzân tidak terdapat garis bawah dan cetak besar. Namun, Saya memaklumi hal tersebut dari Ustadz Firanda, yang memang perlu diberi banyak pelajaran seputar etika penulisan.
Kedua, Ustadz Firanda lupa bahwa poin pertama yang Syaikh sebutkan adalah bahwa beliau memuji jalan dakwah yang Saya tempuh dengan ucapan beliau, “Hendaknya engkau terus berlanjut di atas jalanmu ….” Lalu, pada akhir jawaban, Syaikh mendoakan kebaikan untuk Saya dengan ucapan beliau, “Semoga Allah memberi taufiq kepadamu dan memberkahi usaha-usahamu.”
Dalam e-mail kepada Ustadz Firanda, Saya telah menyebutkan, “Kemudian ana mengharap antum dan ikhwah di Rodja untuk memperhatikan catatan-catatan syar’iy yang ana berikan kepada Syaikh, karena saya tidak memahami ada dari keterangan Syaikh menyalahkan catatan yang ana berikan, dan beliau menghargai apa yang telah ana lakukan dengan doa beliau di akhir jawaban, dan setelah menerima jawaban, ana juga menjumpai beliau di Thaif dan beliau sama sekali tidak mengesankan ada kesalahan dari catatan yang ana berikan, namun beliau dalam jawabannya memberikan apa yang beliau pandang baik untuk arahan dakwah ana di masa mendatang.”
Namun, seperti biasanya, Ustadz Firanda keras kepala dan tidak mau tahu.
Ketiga, dalam menyebutkan nama orang-orang yang dibantah atau orang yang menyelisihi, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memberi dua petunjuk. Ini adalah kaidah dalam penyebutan nama ketika membantah atau men-tahdzir.
Pada kebanyakan keadaan, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak menyebut nama orang yang dijelaskan kesalahannya sebagaimana sabda beliau dalam beberapa kejadian,
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا
“Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang berkata begini dan begini.” [2]
Terkadang nama disebutkan jika diperlukan sebagaimana dalam hadits Abu Humaid As-Sâ’idy radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata,
اسْتَعْمَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً مِنَ الْأَسَدِ، يُقَالُ لَهُ: ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا لِيْ أُهْدِيَ لِيْ، قَالَ: فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُوْلُ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا أُهْدِيَ لِيْ؟! أَفَلَا قَعَدَ فِيْ بَيْتِ أَبِيْهِ أَوْ فِيْ بَيْتِ أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا؟! وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَنَالُ أحدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئاً إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ، بَعِيْرٍ لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةٍ لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةٍ تَيْعَرَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ؟ مَرَّتَيْنِ
“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seorang lelaki, dari (Bani) Asad -yang dikenal dengan nama Ibnul Lutbiyyah-, untuk memungut zakat. Tatkala lelaki tersebut datang, ia berkata, ‘Ini untuk kalian, sedang yang ini dihadiahkan untukku.’ Maka Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar lalu menyanjung Allah dan memuji-Nya kemudian berkata, ‘Bagaimanakah kedudukan seorang pekerja yang Saya utus, lalu dia berkata, ‘Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan untukku? Tidakkah lebih baik ia duduk, di rumah ayahnya atau di rumah ibunya, menunggu hingga mengetahui apakah ada yang dihadiahkan untuknya atau tidak?! Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak seorang pun yang mendapat sesuatu dari hal tersebut, kecuali bahwa ia akan datang dengan sesuatu, pada hari kiamat, dalam keadaan menyandang sesuatu itu di atas lehernya: apakah itu unta yang bersuara, sapi yang bersuara, atau kambing yang mengembik.’ Kemudian, beliau mengangkat kedua tangannya, hingga kami melihat bulu ketiaknya, lalu berkata sebanyak dua kali, ‘Ya Allah, apakah Saya telah menyampaikannya?’.” [3]
Ada beberapa hadits lain yang disebutkan oleh guru kami, Syaikh Muqbil Al-Wâdi’iy rahimahullâh, dalam kitab beliau, Al-Jâmi’ Ash-Shahîh, 1/181-185 dalam bab “Tasmiyatul Majrûh Idzâ Uhtîja Ilâ Dzâlika ‘Penyebutan Nama Orang yang Di-jarh Bila Hal Tersebut Diperlukan’ ”.
Setelah penerangan kaidah di atas, hendaknya Ustadz Firanda tidak mengesankan bahwa Syaikh Shalih Al-Fauzân menyelisihi tuntunan yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam contohkan, yaitu bahwa sama sekali tidak boleh menyebut nama atau yayasan orang-orang yang dibantah.
Keempat, di antara jasa agung yang dilakukan oleh guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, adalah membantah tulisan atau pemikiran menyimpang yang dimuat di media massa. Beliau banyak membantah hal tersebut di koran dan atau media lainnya, serta sangat sering beliau membantah dengan menyebut nama-nama si penulis. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membalas kebaikan untuk beliau dalam membela kemurnian agama Islam.
Demikian pula, Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh memberi kata pengantar untuk kitab Al-Irhâb karya guru kami, Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly hafizhahullâh, yang memuat banyak nama dai yang menyimpang.
Penyebutan nama orang yang dibantah ini juga merupakan amalan Syaikh Ibnu Bâz, Syaikh Al-Albâny, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd, dan ulama Sunnah lainnya -semoga Allah Ta’âlâ merahmati yang telah meninggal dan menjaga yang masih hidup-.
Setelah keterangan di atas, tentu akan tampak jelas ambisi Ustadz Firanda agar bisa menahan Saya untuk men-tahdzir orang-orang yang berpemikiran menyimpang seperti dirinya dengan seenaknya memahami arahan Syaikh Shalih Al-Fauzân untuk Saya.
Kelima, pesan Syaikh Shalih Al-Fauzân, “Janganlah engkau sibuk mencela pribadi-pribadi atau jam’iyyah-jam’iyyah,” tentu merupakan nasihat berharga bagi Saya. Insya Allah, Saya termasuk orang-orang yang mengambil wasiat beliau.
Wasiat seperti ini tidak hanya Kami dengar dari Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh. Guru kami, Syaikh Muqbil rahimahullâh, sering berucap, “Kami dalam membantah ahlul bid’ah hanyalah seperti orang yang berjalan sambil menampar siapa saja yang perlu diberi pelajaran.”[4]
Adapun sikap seseorang yang hanya menyibukkan diri untuk mencela pribadi orang lain dan jam’iyyah adalah hal yang tidak dicontohkan oleh para ulama.
Juga, memang salah satu arahan Syaikh Shalih Al-Fauzân kepada Saya, pada sebagian kesempatan, adalah untuk tidak berbenturan dengan orang-orang yang menyelisihi jalan Sunnah sebagaimana beliau pernah mengkhawatirkan Saya untuk berbenturan dengan para takfiriyyin ketika Saya menulis buku Antara Jihad dan Terorisme. Saya sangat memahami makna kekhawatiran beliau. Oleh karena itu, Saya menyampaikan bahwa hal tersebut tidaklah seperti kekhawatiran beliau, dan memang keadaan negeri Indonesia sangat memerlukan tulisan yang seperti itu.
Keenam, kalau memang seperti penyebutan Ustadz Firanda bahwa tidak boleh mencela dai-dai dan yayasan-yayasan, seharusnya nasihat itu juga dijadikan sebagai pelajaran untuk Ustadz Firanda sendiri ketika menulis tentang Saya dan dai-dai lainnya, bahkan seharusnya Ustadz Firanda mengambil pelajaran untuk tidak mencela ulama dan berdusta terhadap mereka sebagaimana yang dia lakukan di salah satu bagian dari enam bagian tulisannya.


Ketiga: Adab Jelek terhadap Para Ulama dan Sifat Bangga Diri Lagi Keras Kepala
Sudah merupakan tabiat seorang Ahlus Sunnah untuk cinta hidayah kepada seseorang dan agar orang itu kembali ke jalan yang lurus. Itulah yang dilakukan oleh sebagian asatidzah yang dahulu merupakan guru-guru di Ma’had Jamilurrahman, seperti Ustadz Shalih Su’aidy, Ustadz Ibnu Yunus, Ustadz Rezki, dan Ustadz Abul ‘Abbas Asy-Syihry. Sebagian dari ustadz-ustadz tersebut pernah mengajar Ustadz Firanda.
Asatidzah itu meninggalkan Ma’had Jamilurrahman di atas ilmu tentang penyimpangan orang-orang di Ma’had Jamilurrahman dan berusaha menasihati orang lain yang masih ikut bersama orang-orang tadi. Termasuk di antara mereka yang telah dinasihati oleh asatidzah tersebut adalah Ustadz Firanda.
Sudah berulang kali Ustadz Firanda bertaubat di depan sebagian asatidzah tersebut tentang masalah Ihyâ`At-Turâts. Namun, setiap kali bertaubat, dia malah kembali kepada pendapat pertamanya. Hingga hari ini, Ustadz Firanda masih saja membela Ihyâ` At-Turâts.
Salah satu ciri Ustadz Firanda ketika mendebat guru-gurunya adalah membabi-buta, bersuara lantang, dan merasa dirinya lebih tinggi. Demikianlah tutur kisah dari asatidzah tersebut.
Bagi Saya, keburukan adab Ustadz Firanda seperti itu bukanlah hal yang mengherankan. Dalam tulisan-tulisannya yang terakhir, dia menunjukkan keburukan adab yang lebih daripada itu dengan “membenturkan” sebagian ulama dengan ulama lainnya, mencela sejumlah ulama Salafiyyin, dan bahkan lupa diri dengan melakukan bantahan penuh dusta terhadap guru kami, Syaikh Rabî’ bin Hâdy Al-Madkhaly -semoga Allah Ta’âlâ selalu menjaga beliau dari kejelekan orang-orang jahil-.
Dari Abu ‘Âshim Adh-Dhahhâk bin Makhlad An-Nabîl, beliau berkata,
“Saya mendengar Sufyân At-Tsaury, sementara majelis beliau telah dihadiri oleh seorang pemuda dari ahli ilmi, yang dia merasa memimpin, berbicara, dan bersombong dengan ilmunya terhadap orang yang lebih tua daripada dia. Sufyân pun marah seraya berkata,
لَمْ يَكُنِ السَّلَفُ هَكَذَا كَانَ أَحَدُهُمْ لا يَدَّعِي الإِمَامَةَ، وَلا يَجْلِسُ فِي الصَّدْرِ حَتَّى يُطْلَبَ هَذَا الْعِلْمَ ثَلاثِينَ سَنَةً، وَأَنْتَ تَتَكَبَّرُ عَلَى مَنْ هُوَ أَسَنُّ مِنْكَ، قُمْ عَنِّي وَلا أَرَاكَ تَدْنُو مِنْ مَجْلِسِي
“Para Salaf tidaklah seperti ini. Tidaklah salah seorang dari mereka mengklaim kepemimpinan, tidaklah pula dia duduk di depan hingga dia menuntut ilmu ini selama tiga puluh tahun, sedangkan engkau merasa sombong terhadap orang yang lebih tua daripada engkau. Berdirilah engkau dariku, dan janganlah sampai Saya melihatmu mendekati majelisku.”
Abu ‘Âshim An-Nabîl berkata pula,
“Saya mendengar Sufyân berkata,
إِذَا رَأَيْتُ الشَّابَّ يَتَكَلَّمُ عِنْدَ الْمَشَايِخِ، وَإِنْ كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنَ الْعِلْمِ مَبْلَغًا فَآيِسْ مِنْ خَيْرِهِ ؛ فَإِنَّهُ قَلِيلُ الْحَيَاءِ
‘Apabila engkau melihat anak muda -bagaimanapun dia telah mencapai tingkatan ilmu- berbicara di sisi para syaikh, putus asalah dari kebaikannya karena dia adalah orang yang kurang rasa malunya.’.”[5]
Ketika para penuntut ilmu dari kalangan Salafiyyin memperingatkan akan bahaya pemikiran Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, hal itu karena para ulama besar telah berfatwa untuk men-tahdzir Syaikh Ali Hasan. Berbeda dengan Ustadz Firanda yang, tanpa rasa malu dan merasa diri sudah mencapai kedudukan tinggi, berani menarik kesimpulan-kesimpulan aneh tentang Syaikh Rabî’, bahwa Syaikh Rabî’ menganut pemahaman Khawârij dan berdusta terhadap para Salaf, sebagaimana yang Ustadz Firanda muntahkan dalam tulisan bagian ke-4 dan ke-6.
Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh adalah seorang profesor yang telah pensiun di Jamî’ah Islamiyyah, tempat Ustadz Firanda belajar saat ini. Sejumlah guru Ustadz Firanda adalah murid-murid Syaikh Rabî’, yakni Syaikh Shalih As-Suhaimy, Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbâd, dan selainnya -semoga Allah menjaga mereka semua-.
Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda.
Abu Hâtim Ibnu Hibbân Al-Busty rahimahullâh berkata, “Seseorang yang berakal wajib menetapi rasa malu, karena (rasa malu) adalah sumber akal dan benih kebaikan, sedangkan meninggalkan (rasa malu) adalah sumber kejahilan dan benih kejelekan. Rasa malu menunjukkan akal (seseorang) sebagaimana meninggalkan (rasa malu) menunjukkan kejahilan ….”[6]
Ibnul Qayyim berkata, “Adapun malu seseorang kepada dirinya merupakan malu jiwa mulia yang agung lagi berkedudukan tinggi dengan meridhai kekurangan untuk dirinya dan merasa cukup dengan hal yang di bawah. Maka, dia mendapati dirinya malu terhadap dirinya sendiri sehingga dia seakan-akan memiliki dua jiwa: salah satu (jiwa)nya malu terhadap (jiwa) lainnya. Inilah keberadaan malu yang paling sempurna. Apabila seorang hamba malu terhadap dirinya sendiri, dia akan lebih layak malu kepada orang lain.”[7]
Keadaan Ustadz Firanda ini juga mengingatkan Saya dengan sebuah kisah yang indah.
Disebutkan bahwa Abdul Malik bin Quraib Al-Ashma’iy rahimahullâh, salah seorang pakar bahasa Arab, memasuki sebuah perkampungan Badui dan mendapati seorang perempuan tua menangisi kambingnya yang diterkam oleh seekor serigala. Ternyata, serigala itu dia besarkan bersama kambingnya. Perempuan tersebut pernah menemukan anak serigala dan akhirnya dia besarkan bersama anak kambingnya. Ketika tumbuh besar, serigala itu malah menerkam kambing saudara susuannya sendiri maka perempuan tersebut mengucapkan beberapa syair yang mengandung hikmah,
بَقَرْتَ شُوَيْهَتِيْ وَفَجَعْتَ قَلْبِيْ وَأَنْتَ لِشَاتِنَا وَلَدٌ رَبِيبُ
غُذِيتَ بِدَرِّهَا وَرُبِيتَ فِينَا فَمَنْ أَنْبَاكَ أَنَّ أَبَاكَ ذِيبُ
إِذَا كَانَ الطِّبَاعُ طِبَاعَ سَوْءٍ فَلَيْسَ بِنَافِعٍ أَدَبُ الأَدِيب
“Engkau mencabik anak kambingku dan mengagetkan hatiku
Padahal engkau adalah anak tiri terhadap kambing kami.
Engkau tumbuh dengan susu (induknya) dan dipelihara di tengah kami,
Lantas siapa yang memberitakan kepadamu bahwa ayahmu adalah seekor serigala?
Jika itu adalah tabiat jelek,
(Ajaran) adab seorang ahli adab tidak akan bermanfaat.”[8]
Semoga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memberi hidayah kepada Kita semua menuju jalan yang lurus.


Keempat: Kedustaan terhadap Para Ulama
Kalau kritikan dan bantahan terhadap para ulama yang Ustadz Firanda tulis adalah hal yang benar, tentulah kebenaran akan diterima oleh setiap orang yang menghormati Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan manhaj Salaf. Sebab, para ulama Kami tidak pernah mengajari Kami untuk mengultuskan mereka, taklid, atau fanatik terhadap siapapun.
Akan tetapi, kenyataannya adalah bahwa tuduhan-tuduhan terhadap ulama tersebut adalah kedustaan yang nyata. Insya Allah, Kami akan menerangkan penjelasan khusus tentang kedustaan Ustadz Firanda dalam hal tersebut.
Sungguh tepat Ibnu ‘Asâkir tatkala berkata,
إِن لُحُوم الْعلمَاء رَحْمَة اللَّه عَلَيْهِم مَسْمُومَة وَعَادَة اللَّه فِي هتك أَسْتَار منتقصيهم مَعْلُومَة لِأَن الوقيعة فيهم بِمَا هم مِنْهُ برَاء أمره عَظِيم والتنَاول لأعراضهم بالزور والافتراء مرتع وخيم والاختلاق على من اخْتَارَهُ اللَّه مِنْهُم لنعش الْعلم خلق ذميم
“Sesungguhnya daging-daging para ulama -semoga Allah merahmati mereka- adalah beracun. Kebiasaan Allah yang menghinakan para penoda kehormatan mereka (ulama) adalah suatu hal yang telah dimaklumi. Sebab, mencela mereka dalam hal yang mereka berlepas darinya adalah perkara yang sangat besar, menjamah kehormatan mereka dengan kepalsuan dan kebohongan adalah persemaian yang jelek, dan kedustaan terhadap orang yang Allah pilih guna menyandang ilmu adalah akhlak tercela.” [9]
Dengan tulisan-tulisannya yang telah tersebar, banyak hal yang Allah singkap dari kenistaan pemikiran Ustadz Firanda ini sehingga menjadilah orang ini dikenal nilai dan harganya di kalangan Ahlul Haq. Muhammad bin Abdillah Al-Baghdâdy bersenandung,
إِذَا مَا الْمَرْءُ أَخْطَأَهُ ثَلَاثٌ فَبِعْهُ وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ رَمَادِ
سَلَامَةُ صَدْرِهِ وَالصِّدْقُ مِنْهُ وَكِتْمَانُ السَّرَائِرِ فِي الْفُؤَادِ
“Apabila seseorang kehilangan tiga (sifat)
Juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu.
(Tiga sifat itu adalah) keselamatan hati, kejujuran
Dan menyembunyikan rahasia (orang lain) di dalam hati.”[10]


Kelima: Pendek Akal dalam Memahami Ucapan Orang Lain
Yang aneh bin ajaib, Ustadz Firanda berkata, “Al-Ustadz menyatakan yang lebih maslahat tidak melarang orang awam untuk mendengar Radio Rodja, karena Radio Rodja ibarat orang fajir tapi bermanfaat bagi kaum muslimin. Al-Ustadz berkata kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan ((Adapun orang-orang awam bisa jadi menurut kami yang lebih baik bagi mereka adalah tidak melarang mereka dari mendengar/menonton Rodja, dalam rangka meminimalkan keburukan, dan termasuk dalam bab “Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir”))
Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hadits ini ((“Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir”)) adalah kisah yang masyhur tentang seseorang yang sangat hebat dalam berperang dan banyak membunuh musuh, lalu diakhir hayatnya iapun bunuh diri karena tidak kuasa menahan rasa sakit akibat luka yang dialaminya (HR Al-Bukhari 3062 dan Muslim no 111). Adapun orang fajir dalam hadits ini maka mencakup orang kafir dan juga orang fasik sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar (lihat Fathul Baari 7/474)
Yaa…mau bagaimana lagi, inilah hakikat penilaian al-Ustadz tentang Radio Rodja, ibarat seorang yang fajir/fasiq. Padahal diantara yang mengisi di Radio Rodja adalah Syaikh Abdurrozaq, Syaikkh Sa’ad Asy-Syatsri, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan, para ustadaz-ustadz….kesimpulannya semuanya ibarat “ORANG FAJIR”.”

Tanggapan
Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama, serta berani mendebat guru-gurunya dan Syaikh yang berada pada tingkatan guru dari Syaikh-Syaikhnya, justru akalnya pendek dan pemahamannya dangkal dalam memahami ucapan Saya, “dan termasuk dalam bab ‘Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir’.”
Memang rumit memahamkan perkara yang sebenarnya sudah jelas kepada Ustadz Firanda ini. Seharusnya dia sudah belajar ilmu bahasa Arab dan ilmu ushul fiqih dengan baik sehingga bisa memahami seluk beluk bahasa yang berjalan dalam pembahasan ilmu agama.
Akan tetapi, tidaklah mengapa, Saya menerangkan sedikit cara menghubungkan suatu dalil atau perumpamaan untuk suatu masalah yang berbeda dari sisi hukum dan hakikat karena suatu pengikat yang mirip antara keduanya.
Pertama, dalam Kitâbut Tauhîd, disebutkan,
وَلِاْبْنِ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ حُذَيْفَةَ: (أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً فِي يَدِهِ خَيْطٌ مِنَ الْحُمَّى فَقَطَعَهُ)، وَتَلَا قَوْلَهُ: وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ.
(Diriwayatkan) oleh Ibnu Abi Hâtim, dari Hudzaifah, (beliau berkata) bahwa beliau melihat seorang lelaki yang di tangannya ada benang untuk mengobati demam maka beliau memutus benang itu seraya membaca firman-Nya, “Dan sebagian besar di antara mereka itu tidaklah beriman kepada Allah, kecuali bahwa mereka berbuat syirik (kepada-Nya).” [Yûsuf: 106]
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullâh menyebutkan salah satu kandungan faidahnya, “Kesembilan: Tilawah Hudzaifah terhadap ayat (Surah Yusuf) menjadi bukti bahwa para shahabat berargumen dengan ayat-ayat Al-Qur`an berkaitan dengan syirik besar terhadap syirik kecil, sebagaimana penyebutan Ibnu ‘Abbâs pada ayat surah Al-Baqarah.”
Guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, menjelaskan, “Dibenarkan untuk berdalil dengan apa-apa yang diturunkan berkenaan dengan syirik besar guna menghukumi syirik kecil karena keumuman cakupan dalil tersebut.”
Kita semua memaklumi bahwa syirik akbar berbeda dengan syirik ashghar, tetapi kadang ulama berdalil dengan dalil tentang syirik akbar guna menghukumi syirik ashghar, karena suatu kesamaan yang mengikat antara keduanya, yaitu penyetaraan Allah Ta’âlâ dengan makhluk.
Kedua, pendalilan Imam Abu Qilâbah dan selainnya bahwa bahaya setiap bid’ah akan mengakibatkan kehinaan terhadap pelakunya dengan ayat yang berkaitan dengan orang-orang Bani Israil yang menyembah anak sapi,
إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak sapi (sebagai sembahannya) kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kedustaan.” [Al-A’râf: 152]
Abu Qilâbah berkata, “Ini adalah balasan terhadap setiap orang yang berdusta hingga hari kiamat, (yaitu) Allah akan menghinakannya.”[11]
Kita memaklumi bahwa perbuatan menyembah anak sapi adalah kekafiran, sedang bid’ah kadang tergolong kekafiran, tetapi kadang pula tidak mengafirkan. Namun, ulama memakai dalil yang sama karena suatu kesamaan yang mengikat antara keduanya, yaitu mengadakan kedustaan terhadap Allah Ta’âlâ.
Ketiga, siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini seperti “kambing, walaupun terbang”.
“Kambing, walaupun terbang” adalah perumpamaan untuk orang yang tetap bersikukuh dan keras kepala setelah tampak hakikat sebenarnya. Kisahnya adalah dua orang yang melihat sesuatu yang hitam dari kejauhan. Orang pertama berkata, “Itu adalah burung gagak,” sedangkan orang kedua menyanggah, “Tidak, itu adalah kambing.” Larutlah keduanya dalam perdebatan hingga sesuatu yang hitam itu terbang. Pastilah, orang pertama bergembira dengan hakikat yang membuktikan kebenaran ucapannya. Akan tetapi, ternyata orang kedua berkata, “Tidak, itu adalah kambing, walaupun terbang!”
Itu hanyalah perumpamaan. Semoga Ustadz Firanda tidak lagi membuat suatu keanehan baru dengan mengatakan bahwa Dzulqarnain menyebutnya sebagai kambing.
Demikian pula, tatkala pembolehan Saya untuk mendengar radio Rodja bagi orang-orang awam pada keadaan tertentu dengan menggolongkan hal tersebut ke dalam bab sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir,” kesamaan yang mengikat antara keduanya adalah bahwa ada manfaat yang dipetik dari suatu perkara, meskipun perkara itu sendiri menyandang hal tercela.
Setelah penjelasan di atas, akan tampak jelas bahwa ucapan Ustadz Firanda, “Padahal diantara yang mengisi di Radio Rodja adalah Syaikh Abdurrozaq, Syaikkh Sa’ad Asy-Syatsri, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan, para ustadaz-ustadz….kesimpulannya semuanya ibarat “ORANG FAJIR”.” hanyalah kedustaan semata yang muncul dari pemahamannya yang buruk dan akalnya yang pendek. Oleh karena itu, janganlah heran jika Ustadz Firanda jatuh ke dalam kedustaan-kedustaan yang semisal ini sebagaimana kedustaannya yang Insya Allah akan kami terangkan dalam memahami ucapan-ucapan guru kami, Syaikh Rabî’ bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.


Keenam: Membela Ahli Batil dan Memuat Syubhat-Syubhat Ahli Batil
Di antara akal Ustadz Firanda yang ‘cerdas’ adalah pembelaan terhadap sejumlah ahli batil dan pemuatan syubhat-syubhat mereka dari dunia maya. Dari tulisan-tulisannya dalam membela Rodja, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.
Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’, juga beliau menyebutkan bahwa di dalamnya ada para pendusta yang mengarahkan pembicaraan beliau kepada makna-makna yang tidak beliau maksudkan. Silakan membaca http://www.sahab.net/forums/?showtopic=123261.
Memang hal yang mengherankan bahwa situs yang telah dicela oleh banyak ulama justru menjadi rujukan dan bacaan Ustadz Firanda. Mungkin Ustadz Firanda sudah menganggap bahwa dirinya besar dan telah dewasa sehingga tidak mengapa dia menyelisihi ulama yang men-tahdzir situs tersebut, atau ulama-ulama tersebut barangkali tidak masuk di dalam daftar ulama di sisi Ustadz Firanda.
Sudah lama Saya mengetahui adanya situs-situs yang punya perhatian dalam membela perusak dakwah Salafiyah seperti Ali Hasan, Abul Hasan Al-Mishry, dan selainnya. Situs-situs tersebut ada yang dalam versi bahasa Arab, seperti situs Ali Hasan, situs Al-Atsary, dan selainnya, atau dalam versi bahasa Indonesia, seperti situs Abul Jauza dan semisalnya. Selain itu, situs-situs tersebut sering mencela ulama yang jasa dan kebaikannya telah dikenal, juga para penuntut ilmu yang dikenal dengan sirah yang baik. Seakan-akan Saya melihat bahwa ulama dan para penuntut ilmu tidak menoleh kepada situs-situs tersebut sambil melantunkan dua bait syair,
يشتمني عبد بني مسمع فصنت عنه النفس والعرضا
ولم أجبه لاحتقار له من ذا يعض الكلب إن عضَّا
“Saya dicela oleh budak milik Bani Misma’
Saya pun menjaga diri dan kehormatan
Saya tidak menjawabnya karena penghinaan terhadapnya
Siapakah yang sudi mengigit anjing yang menggigitnya?”
Kembali Allah Ta’âlâ menampakkan keadaan Ustadz Firanda, yang merasa bangga dengan dirinya dan lancang berdusta terhadap para ulama, tatkala dia mengambil kritikan dan syubhatnya dari situs-situs seperti itu. Sungguh menyedihkan bila seseorang, yang merasa dirinya melihat dan bisa mendebat ulama, dituntun jalannya oleh orang buta. Sungguh telah benar seorang penyair bijak yang berucap,
أعمى يقودُ بصيراً لا أبا لكمُ قد ضلَّ من كانت العميان تهديهِ
“Seorang buta menuntun orang yang melihat, -sungguh tiada ayah bagi kalian-
Amatlah sesat siapa saja yang orang-orang buta menjadi penuntunnya.”
Alhamdulillah, kritikan dan syubhat Ustadz Firanda dari situs-situs itu adalah kedustaan yang sudah basi dan telah lama tersingkap, bukanlah hal yang sulit untuk menjelaskannya dengan seizin Allah. Insya Allah, Saya akan menerangkan hal tersebut pada tempatnya.


Ketujuh: Benarkah Ustadz Firanda Pandai Menimbang Mashlahat dan Mafsadat Serta Mengenal Maqâshid Syariat?
Di antara “lagu” Ustadz Firanda yang unik adalah bahwa dia menganggap dirinya pandai menimbang antara mashlahat dan mafsadat, bahkan banyak menyalahkan ulama dan para penuntut ilmu yang dianggap tidak pandai menimbang antara kemashalahatan dan kemanfaatan dalam permasalahan tahdzir, hajr, dan selainnya.
Dari catatan-catatan yang telah berlalu, telah tampak akal Ustadz Firanda yang pendek dalam menimbang dan mengkritik suatu perkara, bahkan dalam memahami suatu bahasa yang sederhana.
Juga akan datang pembahasan-pembahasan yang lebih jelas menunjukkan bagaimana pemikiran-pemikirannya yang menyelesihi manhaj Salafy dalam banyak pembahasan serta kedustaan-kedustaannya terhadap para ulama.
Orang yang jujur dalam menilai akan mengetahui bahwa Ustadz Firanda telah merusak dirinya sendiri dengan tulisan dan bantahannya, yang manfaat tulisan tersebut tidak jelas dan justru membuat para pengkritiknya semakin yakin akan kenistaan pemikiran dan kedustaannya.
Tatkala dia memasang dirinya sebagai juru bicara dalam membela Rodja, hal itu justru akan menjadi bukti lebih jelas akan penyimpangan Rodja dengan membiarkan Ustadz Firanda menuangkan sejumlah pemikiran rusaknya. Artinya, di antara mashlahat yang ditimbulkan oleh Ustadz Firanda adalah bahwa siapa saja yang membantah Ustadz Firanda berarti hal itu juga bantahan untuk Rodja karena, secara tidak langsung, sikap diam Rodja adalah persetujuan akan pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda.
Juga, di antara pertimbangan mashalat dan mafsadat Ustadz Firanda adalah bahwa dia melarang dan men-tahdzir terhadap sesuatu, tetapi ternyata dia sendiri telah jatuh ke dalam larangannya sebagaimana yang, Insya Allah, akan Saya terangkan dalam pembahasan Ustadz Firanda tentang menimbang dengan dua timbangan.
Abud Dardâ` radhiyallâhu ‘anhu berkata,
عَلامَةُ الْجَهْلِ ثَلاثٌ: الْعُجْبُ، وَكَثْرَةُ الْمَنْطِقِ فِيمَا لا يَعْنِيهِ، وَأَنْ يَنْهَى عَنْ شَيْءٍ وَيَأْتِيَهُ
“Tanda kejahilan ada tiga: ujub, banyak membicarakan hal yang tidak bermanfaat baginya, dan melarang dari sesuatu, tetapi dia sendiri melakukan hal itu.” [12]
Yang lainnya berkata,
“Seseorang yang takjub kepada dirinya sendiri menunjukkan kelemahan akalnya.” [13]


Kedelapan: Penggambaran Dusta Tentang Masalah Ihyâ` At-Turâts
Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”[14]
Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,
“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.
Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.
Guru kami, Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy, memperbolehkan hal tersebut sebagaimana yang Saya dengar dan Saya tanyakan langsung kepada beliau tentang masalah ini. Walaupun, belakangan ini, Saya mendengar -dari sebagian murid beliau- bahwa beliau tidak memperbolehkan hal itu secara mutlak karena kenyataan yang terjadi bahwa mereka pasti akan memberi syarat, meskipun syarat itu datang belakangan.
Demikian pula guru kami, Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbiry. Dahulu, beliau memperbolehkan jika pemberian itu tanpa syarat, tetapi kemudian beliau melarang pengambilan tersebut secara mutlak.
Saya Perlu menegaskan kepada Ustadz Firanda bahwa Saya mengikuti para ulama yang men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts karena kerusakan manhaj Ihyâ` At-Turâts dan berbagai kesalahan besar yang terjadi pada Ihyâ` At-Turâts.
Kami punya fakta-fakta tentang kerusakan dan bahaya Ihyâ` At-Turâts terhadap dakwah Salafiyah di Indonesia. Fakta-fakta tersebut tidak berkaitan dengan dana, tetapi punya keterkaitan dengan sebagian ustadz yang menjadi pemateri di Rodja.”
Insya Allah, Saya akan mengkhususkan pembahasan tersendiri tentang permasalahan ini pada tulisan-tulisan mendatang.
Ternyata pada bagian ke-3 tulisannya, “Si Halimah kembali kepada kebiasaan lamanya”: keras kepala dan tidak mau menerima peringatan. Ustadz Firanda kembali menuduh dengan redaksi yang lebih umum. Ustadz Firanda berkata, “…karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas.”

Tanggapan
Saya tidak pernah memaksa Ustadz Firanda agar mengikuti Kami untuk men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts sebagaimana Ustadz-Ustadz -yang dahulu pernah aktif di Ma’had Jamilurrahman dan pernah menasihati Ustadz Firanda tentang Ihyâ` At-Turâts- tidak pernah memaksa Ustadz Firanda untuk mengikuti pendapat mereka. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ustadz Firanda-lah yang mengebu-gebu dalam membela Ihyâ` At-Turâts dan menyamarkan kesalahan-kesalahan besar yang terjadi di tengah mereka.
Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh. Kala itu terjadi pembahasan beberapa masalah, yang di antaranya adalah pembahasan tentang Ihyâ` At-Turâts, suatu hal yang tidak meninggalkan keraguan lagi akan bahaya dan ke-hizbiyah-annya. Syaikh Muhammad juga menyinggung tentang Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbâd hafizhahullâh yang kadang memberi ceramah di markaz Ihyâ` At-Turâts. Syaikh Muhammad telah menyebutkan ketidaksetujuan beliau terhadap sikap Syaikh Abdurrazzaq tersebut di depan ayah Syaikh Abdurrazzaq sendiri, yaitu Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd hafizhahullâh. Syaikh Muhammad berkata, “Bersama dengan itu, kami adalah satu jari yang tidak terpisah.”[15]
Demikianlah ulama Sunnah menyikapi dan mendudukkan kesalahan tatkala orang yang melakukannya karena suatu ijtihad yang diberi udzur, bukan karena hawa nafsu dan hizbiyah.
Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.
Tentunya hal itu sangatlah jauh berbeda dengan Ustadz Firanda.
Sekitar lima tahun silam atau lebih, Saya pernah mendapat panggilan telepon dari Syaikh Muhammad bin Ramzân Al-Hâjiry hafizhahullâh -beliau adalah seorang Salafy, demikianlah yang kami ketahui dari beliau, Wallâhu Hasîbuhu- tentang kedatangan Ustadz Firanda bersama sebagian orang Indonesia yang mengunjungi beliau. Lagi-lagi, Ustadz Firanda mempermasalahkan Ihyâ` At-Turâts dan menyinggung Kami yang men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts. Beliau bercerita bahwa beliau bertanya kepada Ustadz Firanda dengan tutur baik sangka seorang Salafy, “Apakah para ikhwan itu men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts dengan haq (kebenaran) atau tanpa haq?” Ternyata Ustadz Firanda menjawab, “Dengan haq.” Maka Syaikh Muhammad bin Ramzân menyatakan, “Selama mereka berbicara dengan haq, ada apa Engkau marah?”
Demikianlah seharusnya seorang Salafy bersikap tatkala kebatilan dan kesesatan diterangkan. Dia tidak akan marah dan tidak membantah. Itulah yang berjalan di tengah para ulama Salaf terdahulu.
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Imam Abu Bakr bin ‘Ayyâsy rahimahullâh, “Siapakah seorang sunny ‘pengikut Ahlus Sunnah’ itu?” Beliau menjawab,
السُّنِّيُّ الَّذِي إِذَا ذُكِرَتِ الأَهْوَاءُ لَمْ يَغْضَبْ لِشَيْءٍ مِنْهَا
“Seorang sunny adalah orang yang apabila bid’ah-bid’ah dicela, dia tidak marah terhadap sesuatu apapun darinya.”[16]
Insya Allah, Saya akan memberikan data tambahan pada tempatnya tentang sebagian pemateri Rodja berkaitan dengan masalah Ihyâ` At-Turâts.
Inilah sebenarnya di antara hizbiyah Ustadz Firanda dan siapa saja yang bersepakat dengannya sehingga Saya dan asatidzah lainnya men-tahdzir mereka. Makar dan tipu daya itulah yang kerap mewarnai Ustadz Firanda.
Guru kami, Syaikh Muqbil rahimahullâh, selalu mengulangi kalimat ke telinga murid-muridnya, “Tanda hizbiyyah ada tiga: makar, tipu daya, dan kedustaan.”
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberi hidayah kepada mereka.


Kesembilan: Sangkaan bahwa men-tahdzir Rodja Berarti Membenci dan Memusuhi Rodja
Juga, salah satu akal pendek Ustadz Firanda adalah sangkaannya bahwa men-tahdzir Rodja adalah menandakan kebencian dan permusuhan. Ini adalah sikap dari orang-orang awan dan tidak mengenal manhaj Salaf.
Tentunya hal tersebut sangatlah berbeda dengan pandangan ulama Salaf.
Abu Shalih Al-Farrâ` pernah berkata: Saya menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbâth suatu hal berupa perkara fitnah yang berasal dari Wakî’. (Yusuf bin Asbâth) berkata, “Dia itu menyerupai ustadznya -yakni Al-Hasan bin Shalih-.” Saya (Abu Shalih) berkata, “Tidakkah engkau khawatir hal tersebut menjadi ghibah?” (Yusuf bin Asbâth) berkata kepada,
لم يا أحمق، أنا خير لهؤلاء من آبائهم وأمهاتهم، أنا أنهى الناس أن يعملوا بما أحدثوا، فتتبعهم أوزارهم، ومن أطراهم كَانَ أضر عليهم
“Mengapa, wahai orang dungu! Saya lebih baik bagi mereka daripada ayah-ayah dan ibu-ibu mereka. Saya melarang manusia untuk mengerjakan seperti sesuatu yang mereka ada-adakan, (agar) dosa-dosa (pengikut) mereka tidak menyambung kepada mereka. Siapa saja yang memuji mereka, itulah yang membahayakan mereka.”[17]
Dari ‘Âshim Al-Ahwal, beliau berkata, “Saya duduk kepada Qatâdah. Beliau menyebut ‘Amr bin ‘Ubaid, lalu membicarakan dan mencela (‘Amr). Saya berkata, ‘Wahai Abul Khaththâb (Qatâdah), janganlah Saya melihat para ulama. Sebagian mereka mencela sebagian yang lain.’ (Qatâdah) berkata,
يا أحول أولا تدري أن الرجل إِذَا ابتدع بدعة ينبغي لها أن تذكر حتى يحذر
“Wahai Ahwal, tidakkah engkau tahu bahwa seorang lelaki, apabila melakukan suatu bid’ah, patut disebut bid’ahnya agar dia di-tahdzir?”[18]
Imam Asy-Syâthiby rahimahullâh berucap indah dalam menjelaskan maksud pensyariatan serta pertimbangan mashlahat dan mafsadat dari atsar di atas. Beliau bertutur, “Orang-orang seperti mereka mesti disebutkan dan dibuat (agar manusia) lari darinya. Sebab, kalau mereka dibiarkan, bahaya yang kembali terhadap kaum muslimin adalah lebih besar daripada bahaya yang terjadi karena menyebut mereka dan membuat lari dari mereka, jika sebab meninggalkan penyebutan takut terjadi perpecahan dan permusuhan. Tidaklah diragukan bahwa “perpecahan antara kaum muslimin dan para penyeru kepada bid’ah semata bila (tahdzir) ditegakkan terhadap mereka” adalah lebih ringan daripada “perpecahan antara kaum muslimin dan para penyeru (kepada bid’ah) beserta pendukung dan pengikutnya. Apabila diperhadapkan pada dua bahaya, yang dijalani adalah yang teringan dan termudah (di antara kedua)nya. Sebagian dari suatu kejelekan adalah lebih mudah daripada seluruh (kejelekan itu). Seperti memotong tangan yang berulat, mengorbankan (tangan) itu adalah lebih ringan daripada mengorbankan jiwa. Inilah keadaan syariat selama-lamanya. Hukum yang ringan dibuang untuk menjaga yang lebih berat …”[19]
Pokok kenikmatan yang hendaknya kaum muslimin diajak kepadanya adalah mengenal keislaman dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Banyak firqah-firqah menyimpang yang berbangga dengan hasil dakwah mereka. Banyak pula manusia yang sebelumnya bermaksiat, tetapi kemudian gemar kepada ketaatan.
Bahkan, di antara tokoh-tokoh pendukung pemberontakan di Mesir, seperti Abu Ishaq Al-Huwainy, Muhammad Hassan, dan selainnya adalah orang-orang yang dikenal di tengah publik sebagai Wahhâby atau Salafy.
Demikian pula tokoh pendukung mereka dari luar Mesir, seperti Salman Al-‘Audah, ‘Aidh Al-Qarny, Muhammad Al-‘Arify, Abdul ‘Aziz Ath-Tharîfy, Nashir Al-‘Umar, Abul Hasan Al-Ma`riby dan selainnya, adalah orang-orang yang biasa tampil di televisi, bahkan sebagian mereka memiliki stasiun televisi. Di depan publik, semuanya dikenal sebagai penyeru kepada tauhid dan anti kesyirikan.
Akan tetapi, lihatlah bagaimana hasil mendiamkan orang-orang yang menyimpang: pembolehan melakukan kudeta sehingga menimbulkan bencana yang berkepanjangan di tengah kaum muslimin.
Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan, “Tuduhan ngawur tanpa bukti dan dipaksa paksakan, atau mengkait-kaitkan dengan paksa terhadap takfiriyin dan yang lainnya, atau memaksakan pendapat masalah khilafiyah.”
Sikap Ustadz Firanda ini mirip dengan sikap Al-Hasan bin ‘Umarah Al-Bajaly tatkala di-jarh keras oleh Amirul Mukminin dalam hadits Imam Syu’bah bin Hajjâj Al-Bashry rahimahullâh. Ibnu Hibbân Al-Busty rahimahullâh menyebutkan ucapan-upacan ulama tentang Al-Hasan bin dalam kitab Al-Majrûhîn, di antara mereka adalah Syu’bah yang men-jarh Al-Hasan dengan celaan yang sangat keras. Tatkala ucapan Syu’bah sampai kepada Al-Hasan, Al-Hasan berkata, “Seluruh manusia berada dalam kehalalan dariku (dalam mencelaku), kecuali Syu’bah. Sesungguhnya Saya tidak menjadikan dia dalam kehalalan hingga Saya dan dia berdiri di depan Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Allah menghukumi antara Saya dan dia.”
Pelajaran berharga yang ingin Saya tunjukkan di sini adalah ucapan Ibnu Hibbân rahimahullâh yang penuh dengan akal, kebijaksanaan, dan pemahaman mendalam terhadap sendi-sendi agama. Ibnu Hibbân menerangkan sebab yang menjadikan Syu’bah berbicara keras terhadap Al-Hasan, dan beliau menjelaskan bahwa kesalahan memang berasal dari Al-Hasan Al-Bajaly. Kemudian Ibnu Hibbân berkata, “Saya berharap agar Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat derajat Syu’bah di surga dengan berbagai derajat yang tidak dicapai oleh selain beliau, kecuali siapa saja yang berbuat seperti perbuatan beliau, karena pembelaan beliau (yang menolak) kedustaan dari (hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) yang Allah kabarkan bahwa (Rasulullah) tidaklah berucap dari hawa nafsunya. Ucapan (Rasulullah) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada Rasulullah).”
Demikian pula Saya berharap agar Allah Subhânahu wa Ta’âlâ membalas jasa ulama terdahulu dan belakangan yang membela Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan men-tahdzir penyimpangan orang-orang yang menyimpang serta menyelamatkan umat dari kehancuran. Sebagaimana Saya mendoakan seluruh Ahlus Sunnah, dari kalangan orang-orang yang berilmu di Indonesia, yang memberi jasa baik kepada umat dengan memperingatkan mereka dari bahaya dan pemikiran-pemikiran hizbiyah serta segala bentuk kesesatan berupa keyakinan, ucapan, maupun amalan.
Semoga Allah Ta’âlâ memberi taufiq kepada Kita semua menuju kepada jalan yang lurus.

Berangkat dari seluruh hal itu, Saya tidak akan mendiamkan pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang membahayakan umat dan manhaj Salaf.
Insya Allah, Saya akan menjelaskan kenistaan pemikirannya dalam sejumlah tema pembahasan:
1. Dosa Firanda terhadap Ilmu dan Ulama
2. Membela Prinsip Ahlus Sunnah Seputar Pembahasan Iman
3. Penyimpangan Firanda Seputar Manhaj Muwâzanah
4. Mengupas Pemikiran Firanda Seputar Hajr, Tahdzir, dan Menyikapi Kesalahan
5. Firanda dan Pembelaan terhadap Ihyâ` At-Turâts
6. Memeriksa Orang-Orang Bermasalah yang Dibela oleh Firanda
7. Tuduhan Haddadiyah terhadap Orang yang Mengkritik dengan Haq
8. Harga Kedustaan di sisi Firanda
9. Mengharuskan Pendapat yang Tidak Diucapkan oleh Pengkritiknya
10. Firanda dan Menimbang dengan Dua Timbangan
Pada akhir tulisan bagian pertama ini, Saya meminta maaf kepada seluruh pembaca berkaitan dengan sebagian bahasa yang agak tegas dalam tulisan ini dikarenakan oleh “penyakit” dan syubhat Ustadz Firanda yang tergolong “kronis” sehingga Saya perlu memberi “dosis tinggi” agar mencocoki kerusakan yang dia timbulkan.
Allah Maha Mempunyai hikmah dalam setiap ketentuan-Nya. Baru hari-hari ini Saya berkesempatan untuk membuat tulisan ini dikarenakan oleh perjalanan haji yang belum lama berakhir. Saya bersyukur akan segala karunia dan taufiq-Nya sehingga, di sela-sela keterlambatan penulisan ini, terdapat banyak hikmah dan pelajaran.
Pada awal dan akhir tulisan ini -insya Allah, itu pula yang akan Saya lakukan pada tulisan-tulisan mendatang-, Saya bersujud dalam shalat kepada Allah, dengan harapan agar Saya diberi keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan, serta menjadikan tulisan ini sebagai hal yang meninggikan agama, menjaga manhaj Salafy, dan membela ulama umat. Sebagaimana Saya sangat memohon agar tulisan ini bisa membuka hati siapa saja yang dibantah dan mengembalikan mereka kepada jalan yang lurus, serta agar tulisan ini menjadi pedoman bagi pembacanya untuk mengenal manhaj Salaf yang mulia. Amin, Yâ Rabbal Âlamîn.


[1] Dikeluarkan oleh Ahmad, Al-Bukhâry dalam Al-Adab Al-Mufrad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny rahimahullâh dalam Ash-Shahîhah no. 935.
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.
[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim -ini adalah konteks beliau-.
[4] Demikianlah makna ucapan beliau rahimahullâh.
[5] Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal Ilâ As-Sunan Al-Kubrâ` 2/184-185 no. 679.
[6] Raudhatul ‘Uqalâ` hal. 56.
[7] Madârijus Sâlikîn 2/201.
[8] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân 13/349 no. 10468, tetapi bait pertama Kami ambil dari nukilan Ad-Damîry dalam kitab Hayâtul Hayawân hal. 67 dan selainnya.
[9] Tabyîn Kâdzib Al-Mufrarî 1/29.
[10] Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibbân hal. 53.
[11] Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wa Jamâ’ah 1/142-143 no. 288.
[12] Jâmi’ Bayân Al-‘Ilm wa Fadhlihi 1/570 no. 963.
[13] Jâmi’ Bayân Al-‘Ilm wa Fadhlihi 1/570 no. 967.
[14] Demikianlah tulisan perdananya dalam membela Rodja.
[15] Demikianlah makna ucapan beliau.
[16] Diriwayatkan oleh Al-Âjurry dalam Asy-Syarî’ah no. 2041 (tahqiq Hâmid Al-Faqy) dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah 1/65 no. 53.
[17] Diriwayatkan oleh Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afâ` 1/251. Disebutkan pula oleh Al-Mizzy dalam Tahdzîbul Kamâl pada biografi Al-Hasan bin Shalih bin Hayy.
[18] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Âdy dalam Al-Kâmil 6/175, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/355, Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah 1/136 no. 256, 2/738-739 no. 1372, 2/748 no. 1395.
[19] Al-I’tishâm 2/731 tahqiq Al-Hilâly.

Sumber : Dzulqarnain.Net

Info Daurah Fiqih Ushul Fiqih 16 24 Rajab 1432 H 18 26 Juni 2011

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله
وبعد

DAURAH NASIONAL FIQIH & USHUL FIQIH

(Makassar, 16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011)

== (Info Update :21 Mei 2011 ) ==
Alhamdulillah bersamaan dengan Daurah Fiqih dan Ushul Fiqih juga akan diadakan Daurah Bahasa Arab yang insyaAllah akan diisi oleh Al-Ustadz Khidir. InsyaAllah waktunya setelah shalat Isya selama 9 hari yang juga bertempat di Pesantren As-Sunnah Makassar. Semoga Allah memberikan kemudahan untuk daurah ini..
=========================

Alhamdulillah, segala pujian yang sempurna hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam, keluarga, sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir masa.

InsyaAllah pada bulan Rajab 1432 H / Juni 2011 ini akan kembali diadakan Daurah Nasional Fiqih dan Ushul Fiqih di kota Makassar.

Daurah ini insyaAllah akan dilakukan selama 9 hari, jadi bagi kaum muslimin di luar makassar yang ingin mengambil faedah dari daurah ini diharapkan bisa mempersiapkan dirinya untuk mengikuti daurah ini selama 9 hari.

Berikut ini adalah Info Daurah Nasional Fiqih dan Ushul Fiqih :

Tema :
1. “Al-Qawa’id Al-Kulliyyah wa Adh-Dhawabith Al-Fiqhiyyah
100 Kaidah dalam Ilmu Fiqih karya Ibnu Abdil Hady -rahimahullah-.

2. “Ushul Fiqih Al-Waraqat

Pembahasan Ushul Fiqih karya Imam Al-Haramain -rahimahullah-.

Pemateri :

Al-Ustadz Dzulqarnain

Daurah insya Allah akan dilaksanakan pada:

Waktu:
Tanggal 16-24 Rajab 1432 H / 18-26 Juni 2011

Tempat:

Ma’had As-Sunnah Makassar
Jl. Bajirupa Makassar

Peserta :

Ikhwan/Laki-laki

Informasi Pendaftaran :

Alamat : Ma’had As-Sunnah Makassar Lt. II, Jl. Bajirupa Makassar
Email : panitia @ an-nashihah.com
Pendaftaran Online : http://an-nashihah.com/?page_id=147 / www.daftar.almakassari.com
Info Website : www.an-nashihah.com / www.almakassari.com
Info : 085242920351 / 085299057243 / 085242144732

Jazakumullah khairan atas perhatiannya.

Panitia Pelaksana Daurah Fiqih Nasional

Sumber : www.almakassari.com

Khutbah Jumat Syaikh Abdullaah bin Marii bin Buraik Al adeni Hafidzahullaah tentang Mesir Tunisia dan negara Islam lainnya

ان الحمد لله نحمده تعالى و نستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيآت أعمالنا من يهدي الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له
أشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده و رسوله صلى الله عليه وسلم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران :١٠٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء :١)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (#) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (الأحزاب 70-71)

أما بعد , عباد الله

ان أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه و سلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

[

Sesungguhnya Allaah telah memberikan keni’matan kepada hamba-Nya dengan ni’mat yg sangat banyak,yg kalian tidak bisa menghitungnya lagi menentukan jumlahnya,dan Dialah Subhaanahu Wata’ala yg berfirman

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (النحل :١٨)

Artinya :”dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Qs.An-Nahl:18)

Dan Dia Ta’ala jugalah yg mengkhususkan hambanya dengan macam-macam keni’matan kepada mereka yg Dia telah beri keni’matan dengan keni’matan yg khusus,karena agung perkaranya,dan tinggi kehormatan dan kedudukannya,dan besarnya kebutuhan mereka kepada keni’matan itu,dan dari keni’matan itu wahai para hamba-hamba Allaah adalah ni’matnya keamanan,sesungguhnya ni’matnya keamanan adalah salah satu ni’mat yg paling besar yg telah Allaah berikan kepada hambanya,untuk itu Allaah Subhaanahu Wata’ala telah memberikan hukuman kepada suatu kaum dengan hilangnya suatu keamanan darinya dikarenakan kekufurannya dan kema’siyatannya,dan sebagian dari mereka menguasai sebagian yg lainnya,dan orang-orang yg dzolim sebagian mereka menolong sebagian yg lainnya sebatas kekufurannya dan kema’siyatannya

Wahai para hamba Allaah

Sesungguhnya Allaah telah memberikan keni’matan ini kepada orang-orang kafir apa lagi kepada orang-orang yg beriman,maka Allaah telah memberikan keni’matan kepada penduduk mekkah dan Quraisy dengan apa- apa yg mereka lakukan dari perintah Allaah yg dengan sebab itu keamanan Haramnya dan Baitullaah Al-Haraam,sesungguhnya Allaah mengharamkannya dikarenakan kehormatannya dan Allaah menurunkan kepadanya suatu keamanan dengan doa yg dipanjatkan Ibrahim Alaihi As-Salaam

وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا (ال عوران:٩٧)

Artinya:”Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; (Qs.Ali-‘Imron:97)

Dan telah shahih dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dari hadits Salamah bin ‘Ubaidillaah Al-Anshari Radiyallaahu Anhu,bahwasanya Rasulallaah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:”barang siapa yg mendapati dirinya diwaktu pagi hari dalam keadaan aman,sehat di badannya dan di disisinya ada makanan untuk sehari,maka dia seperti orang yg mempunyai dunia beserta isinya dan diriwayatkan juga dari hadits Abu Darda’ dan Ibnu Umar Radiyallaahu Anhum sema’na dengannya dan dihasankan Syaikh Albani Rahimahullaah di dalam Ash-Shahiihah

Dan juga Allaah Subhaanahu Wata’ala memberikan keni’matan terhadap yg dia kehendaki dengan keni’matan ini dan jika keni’matan ini sudah dicabut maka itu akan menjadi kemurkaan yg sangat yg tiada tandingannya kepada makhluk,pertumpahkan darah,dilanggarnya kehormatan demikian juga dirampasnya harta benda dan terjadi penganiayaan dan kebinasaan,apa-apa yg dengannya Allaah maha mengetahui akan hal itu,untuk itu wahai para hamba-hamba Allaah,penjagaan terhadap itu adalah termasuk dari kewajiban yg paling besar di dalam agama ini,dan mencegah dari apa-apa yg mengantarkannya kepada hilangnya keni’matan ini,ini diibaratkan salah satu asas dan ketetapan agama ini,maka untuk itu wahai para hamba-hamba Allaah,telah shahih hadits-hadits yg banyak dari Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam,untuk menjauhi fitnah dan memperingatkan dari apa-apa yg mengantarkan kepadanya,dan berniat menutup seluruh sebab yg mengantarkan kesana,dan termasuk dari itu adalah memberontak kepada penguasa yg Muslim,maka sesungguhnya itu walaupun telah tampak pada dirinya sesuatu kebinasaan atau sesuatu perbuatan dzolim dan ma’siyat,dan kedzoliman tidak diobati dengan kedzoliman yg lebih besar dari itu,dan kebinasaan tidak diobati dengan kebinasaan yg lebih binasa dari itu,dan kejelekan tidak diobati dengan kejelekan yg lebih banyak dari itu atau lebih binasa dari pada itu

Maka telah shahih hadits dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam,bahwasanya beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam mengabarkan,dan telah datang juga di Bab ini hadits-hadits yg sangat banyak,bahwasanya akan datang setelahku pemimpin yg mereka mengetahui darinya dan mereka mengingkarinya ,maka Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam mengabarkan dengan hadits-hadits ini:”bahwasanya suatu kaum akan memimpin manusia dan dari amalannya itu perkara-perkara yg patut diingkari,dan di hadits lain beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam bersabda:”kalian akan mendapati setelahku suatu monopoli[1] dan perkara-perkara yg kalian mengingkarinya,maka mereka berkata wahai Rasulallaah apakah yg kami lakukan,beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata:”dengarlah kalian dan ta’atlah.

Dan demikian pula dihadits lain,Nabi Shalallaahu Alaihi wasallam telah memperingatkan dari mengikuti mereka orang-orang yg merubah dan mengganti pergantian dan perubahan,dan Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam telah menjelaskan bahwasanya yg mengingkarinya maka dia telah selamat dan bahwasanya yg meridhoi dan mengikutinya maka dia akan mendapat adzab di dunia dan di akhirat,dan disini kita mengetahui bahwasanya wajib bagi bagi kaum muslimin jika mereka melihat kejelekan dan kebinasaan yg kadang akan menjadi sebab terkena kejelekan dan kebinasaan yg lebih besar dari itu,maka janganlah kalian mengobati kejelekan dengan kejelekan yg lebih besar dan kebinasaan yg lebih besar dari itu,telah shahih Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam perintahnya untuk ta’at kepada pemimpin muslim semasih amalan itu dalam keta’atan kepada Allaah dan agar tidak memberontak kepadanya dan berma’siyat kepadanya,walaupun telah tampak baginya apa-apa yg tampak(dari ma’siyat dll -pent)semasih dia itu seorang muslim,maka sesungguhnya tidak boleh baginya untuk memberontak,dan mereka telah berkata:”wahai Rasulallaah tidakkah kita memeranginya,beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata:”tidak,semasih mereka menegakan shalat[2] dan beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam berkata dihadits lain:”kecuali jika kalian melihat perbuatan kekufuran yg tampak yg kalian bisa jadikan itu alasan disisi Allaah,

Dan dengan ini diketahui bahwasanya tidak boleh memberontak kepada pemimpin muslim walaupun mereka melakukan kedzaliman,kesalahan,kemungkaran atau kejelekan,karena itu akan membawanya kepada kejelekan yg lebih besar dari itu,dan itu dari perkara yg tidak ada mashlahat untuk manusia tidak ada mashlahat di dalam agamanya dan dunianya,dan meskipun para ulama telah menerangkan bahwasanya itu walaupun terdapat di dalamnya perbuatan kekufuran yg tampak dan terdapat bukti di dalamnya jika seandainya pemberontakan itu menyebabkan kepada mafsadat yg lebih besar dari mafsadat yg dialaminya maka sesungguhnya itu tidak boleh.

Berkata Imam Ibnul Qoyyim Rahimahullaah dibukunya ‘Ilaam Al-Muwaqqi’in:”dan telah tetap di dalam syari’at ini sesungguhnya tidak boleh merubah kemungkaran dengan apa-apa yg membawa kepada kemungkaran yg lebih besar darinya

Dan berkata Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah di dalam bantahannya kepada rafidhah di dalam kitabnya di Minhaaj As-Sunnah An-Nabawiyyah:”dan tidaklah suatu kelompok yg memberontak kepada pemimpin kecuali di dalam pemberontakannya dari kejelekan yg mereka dapatkan dan kepada masyarakatnya itu lebih besar dari kejelekan yg mereka ada di dalamnya.

Kemudian Rahimahullaah berkata:”dari apa-apa yg telah terjadi di dalam sejarah Islam dari fitnah dan cobaan di dalam bab ini,maka beliau memberikan isyarat kepada fitnah yg terjadi di zaman Yazid bin Mua’wiyah di ‘Aam harrah( tahun kesedihan –pent) dan apa yg terjadi di dalam fitnah Ibnul ‘Asy’ats dan Ibnul Muhallib maka sesungguhnya kalian mengetahuinya wahai hamba-hamba Allaah,barangkali dari kalian membaca apa yg telah di tulis di dalam sejarah,dari apa yg dilakukan Yazid bin Mu’awiyyah dari perkara-perkara kejelekan dan kebinasaan,sampai beberapa manusia memaksa untuk mempersiapkan pemberontakan kepadanya di Madinah,dan bangkitlah para shahabat pilihan Radiyallaahu Anhum,para Taabi’in Rahimahullah yg mengikuti mereka dengan kebaikan di dalam pengingkaran kemungkaran itu dan sesungguhnya tidak obati suatu kejelekan dengan kejelekan yg lebih besar dari itu,maka telah benar khabar di Shahih Al-Bukhari,bahwasanya Abdullaah Ibnu Umar Radiyallaahu Anhuma mempersiapkan dirinya dan pergi untuk menasehati mereka yg ingin memberontak kepada Yazid bin Mua’wiyyah dan itu adalah perbuatan yg tidak ditetapkan oleh Syari’at beliau Radiyallaahu Anhuma menyebutkan hadits-hadits yg banyak yg mana telah shahih dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam di dalam perintahnya untuk ta’at kepada pemimpin semasih dia adalah seorang muslim dan sesungguhnya orang yg melepaskan keta’atan kemudian dia mati maka itu adalah seperti mati jahiliyyah,seperti yg telah shahih dari Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam dan beliau Radiyallaahu Anhuma mengumpulkan anak-anaknya dan keluarganya seluruhnya dan berkata:”tidak ada seorangpun dari kalian yg melepaskan keta’atan,maka sesungguhnya aku menegakkan keta’atan seperti yg Allaah perintahkan kepadaku dan seperti yg diperintahkan Rasulallaah Shalallaahu Alaihi Wasallam kepadaku atau seperti yg dikatakan Radiyallaahu Anhu.

Maka di dalam pemberontakan kelompok itu kelompok yg memberontak kepada Yazid bin Mu’awiyyah mendapatkan kejelekan yg sangat besar,berkata Ibnu Katsiir Rahimahullaah:”maka terjadi di tahun itu yaitu tahun kesedihan pembunuhan yg sangat besar,terbunuh seratus dua puluh ribu orang,dan terjadi di dalamnya perampasan harta pelanggaran harga diri sampai dikatakan bahwasanya telah hamil ditahun itu lebih dari seribu wanita hamil dengan kehamilan yg tidak boleh terjadi seperti itu,dan seluruhnya itu wahai hamba-hamba Allaah dikarenakan hilangnya keamaanan,orang-orang dzalim memberikan kekuasaan sebagian mereka kepada sebagian lainnya,dan juga disitu masuknya sebagian orang-orang pilihan dan orang baik,maka sesungguhnya fitnah jika terjadi seluruhnya dan sisi keburukannya akan menimpa orang yg baik seperti yg didapatkan orang yg jahat dan demikianlah pula Ibnul ‘Asy’ats sesungguhnya dia adalah lelaki yg rakus akan politik yg menghasilkan beberapa kejahatan di dalam negeri itu,maka dia menghasilkan kejahatan dari apa-apa yg terjadi dizaman itu di zaman Hajjaaj bin Yusuf Ast-Tsaqafi dan Abdul Malik juga dari keluarga Bani Umayyah maka terprovokasilah siapa yg terprovokasi,maka memberontaklah bersamanya sebagian orang yg tertipu dengan syubhat itu dan tidak berhenti pada tempat-tempat yg telah dibatasi oleh Allaah Azza Wa Jalla di dalam apa-apa yg telah dikeluarkan Atsaar dan dari hadits-hadits yg shahih,dan dari apa-apa yg telah shahih kabarnya dari orang-orang yg shaleh dari ulama ummat ini yg telah terdahulu,maka ketika itu penyembelihan yg sangat banyak,telah terbunuh banyak dari orang-orang yg shaleh apalagi selain mereka,sampai larilah orang-orang yg telah lari kebeberapa orang-orang kuffar dari Turki dan lainnya yg kemarin mereka menjadi musuh dan pada hari itu menjadi teman yg bisa dijadikan perlindungan dinegara-negara mereka,kemudian mereka diserahkan kembali oleh raja Turki yg kafir kepada bani Umayyah,terbunuhlah siapa saja dari mereka yg terbunuh,dan mengalirlah darah dari mereka siapa saja yg mengalir darahnya menyelisihi apa yg terjadi dimasyarakat mereka,dari perampasan harta,dilanggarnya kehormatan dan tertumpahnya darah dll,demikian itu wahai hamba-hamba Allaah berlalunya sejarah dan waktu pada manusia dan manusia tidak melihat di dalam pemberontakannya terhadap pemimpin,melepaskan keta’atan,membuat fitnah,menimbulkan kerusuhan,demontrasi dan membuat kekacauan dimasyarkat yg menghasilkan kejelekan yg akan datang dengan cepat dan kejelekan yg tertunda,maka sesungguhnya itu wahai hamba-hamba Allaah termasuk sesuatu yg tidak bermanfaat bagi Islam dan Muslimin dan dengannya juga tidak ada pertolongan kepada agamanya dan juga dunianya,bahakan seperti yg dikatakan Syaikh Al-Islaam Rahimahullaah:”tidaklah seseorang yg memberontak kepada pemimpin kecuali di dalam perkara itu tidak mendapati kebaikan di dalam agamanya dan juga dunianya.dan tidak ada agama yg mereka tegakkan dan tidak pula dunia yg mereka sisakan, dan tidak ada agama yg mereka tegakkan dan tidak pula dunia yg mereka sisakan,jika seandainya Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam memperingatkan dari pemberontakan kepada pemimpin dengan apa-apa yg terjadi di dalamnya dari penyelisihan terhadap Syar’iyyah,dari kekurangan agamanya,dan dari kemungkaran yg terjadi darinya,seperti yg disabdakan beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam:”maka sesungguhnya kalian mengetahui dan mengingkarinya dan bersamaan dengan itu pula tidak diperbolehkan memberontak kepada mereka,dikarenakan dari apa-apa yg akan dia dapatkan dari kejelekan dan kebinasaan yg lebih besar darinya,yg menimpa kepada manusia bersamaan dengan kemungkaran itu,maka sesungguhnya itu adalah fitnah yg khusus,dan adapun jika diangkat pedang dan tertumpahnya darah,maka sesungguhnya itu adalah fitnah yg umum,telah datang beberapa orang kepada Imam Ahmad Rahimahullaah dizaman Ma’mun dan dari apa-apa yg terjadi dari fitnah yg besar bagi para ulama,dan orang-orang yg mulia ketika waktu itu cobaan Al-Qur’an (yaitu Al-Qur’an sebagai makhluk-pent),maka terbunuhlah siapa saja yg terbunuh dari ulama,dihukumlah siapa saja yg dihukum,dan dipenjaralah siapa saja yg dipenjara dan dari mereka Imam Ahmad Rahimahullaah,maka datang kepada beliau Rahimahullaah suatu kelompok menginginkan pemberontakan kepada pemimpin,maka mereka berkata apakah kamu tidak mengetahui apa terjadi kepada kita dari kejelekan dan fitnah,maka beliau Rahimahullaah berkata:”sesungguhnya ini adalah fitnah yg khusus,tetapi jika pedang sudah diangkat dan terjadi

pertumpahan darah maka sesungguhnya itu adalah fitnah yg umum,maka beliau Rahimahullaah semoga Allaah memberikan rahmat-Nya yg luas kepadanya,memperingatkan mereka dari pembunuhan dan dari apa-apa yg akan terjadi dari kejelekan dan kebinasaan,

wahai hamba-hamba Allaah maka ambilah pelajaran dari ayat-ayat Allaah yg ada di alam ini kalau kita tidak bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allaah dan dalil-dalil Syari’at yg bijaksana ini,maka hendaklah kita mengambil pelajaran dari ayat-ayat yg ada di alam ini dari apa-apa yg kita bisa ambil pelajaran dan nasehat di dalamnya,bagi orang-orang yg berakal dan adil,kita meminta kepada Allaah agar mengilhami kita dengan petunjuk-Nya dan agar Allaah memperbaiki keadaan kita dan keadaan kaum muslimin Wal Hamdulillaahi Rabbal ‘Aalamiin.

(Khutbah kedua-pent)



الحمد لله رب العالمين وأشهد ألا اله الا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمد عبده ورسوله صلي الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم.أما بعد



Wahai hamba-hamba Allaah telah disebutkan Al-Imam Al-Bukhari[3] di dalam shahihnya sebuah bab,bab fitnah-fitnah yg bergejolak seperti gelombang ombak laut,kemudian beliau Rahimahullaah menyebutkan dari Sufyan ibnu Uyainah dari Ibni Khalaf bin Hausyaf,adapun seseorang menyukai untuk memberikan misal di dalam fitnah atau jika terkena fitnah dengan abyaat Imrubnul Qois,dan abyat itu masih senantiasa diulang-ulang oleh para ulama yg berakal yg bijaksana dengan apa-apa yg telah Allaah berikan kepada mereka dari ilmu Syar’I dan apa-apa yg ada pada mereka dari pengalaman,pengetahuan hakikatnya suatu permasalahan dan fitnah,maka sesungguhnya fitnah tidak ada orang yg mengetahuinya kecuali ulama,maka jika telah hilang seluruh manusia mengetahuinya,tetapi kapan?

Setelah hilangnya dan perginya,maka menyesalah orang-orang yg menyesal ketika tidak bermanfaat suatu penyesalan.

Abyat itu adalah perkataan Imrubnul Qois

# الحرب أول ما تكون فتية #

# يسعى لزينتها كل جهولِ #

# حتى اذا اشتعلت و شب ضرامها #

# ولت عجوزا غير ذات حليلِ #

# peperangan itu awal mula keadaannya adalah seperti pemudi #

# setiap orang yg tidak mengetahuinya berusaha untuk menghiasinya #

# sampai jika peperangan itu telah menyala dan berkobar nyala apinya #

# berpaling keadaannya seperti wanita yg sudah tua,tidak ada orang yg ingin menjadi suami baginya #



Inilah keadaan fitnah,pertama kali dia datang,dia datang seperti wanita muda yg kecil yg cantik,maka berusahalah seluruh manusia untuk menjadi suami baginya dan menjadi orang yg dekat darinya,sampai jika berkobar api peperangan dan terjadilah apa yg terjadi dari fitnahnya,berpalinglah wanita ini yg diawal perkaranya menjadi wanita muda yg memberikan fitnah kepada manusia menjadi wanita yg tua yg tidak mempunyai suami,tidak ada orang yg menginginkannya,sampai dikatakan di akhir abyat

# شمطاء ينكر لونها وتغيرت #

# مكروهة للشم و التقبيل #

#wanita yg beruban rambut kepalanya diingkari warnanya dan dia berubah #

# menjadi dibenci untuk dihirup baunya dan dicium #

Inilah keadaan suatu fitnah jika dia datang dan jika dia berlalu

Wahai hamba-hamba Allaah,kita harus memperingatkan dari fitnah yg tampak dan yg tersembunyi,dan bagi diri kita harus tidak mengikuti setiap orang yg berteriak dan tidak boleh bagi orang Islam disetir oleh tangan-tangan yg tersembunyi dari tangan-tangan orang-orang kafir dan munafiq,maka mereka(kaum kuffar-pent) mengarahkan mereka (kaum muslimin-pent)kekanan dan kekiri yg akan menjadikan kejelekan di dalam agama mereka dan juga kejelekan di dalam dunia mereka.

Beberapa kaum telah tertipu dengan apa yg terjadi diTunisia hari-hari yg baru saja lewat,maka mereka mengira bahwasanya itu adalah kebaikan untuk rakyatnya,maka ummat membantah para pemimpinnya dan para hakimnya di bumi bagian timur dan barat,apakah mereka tidak mengetahui bahwasanya rakyat Tunisia di tahun tujuh puluhan,merekalah yg memberontak kepada negara kerajaan dengan cara kerusuhan yg seperti ini,dengan cara demontrasi seperti ini,maka terjadilah revolusi secara umum,sampai seseorang dari mereka yg memimpin dan menghina agama Allaah,dan mencela Syari’at Allaah maka dia berbuka puasa terang-terangan dan selain itu dari perkara-perkara yg memusuhi agama Allaah,dan mereka itulah orang-orang yg menggerakkan sampai hilangnya negeri kerajaan,maka terjadilah apa yg terjadi kemudian terjadi pergolakan roti[4] seperti yg mereka katakan,dan terjadilah setelahnya apa yg terjadi,dan apa yg kalian kira akan datang setelah kejelekan kecuali akan datang sesuatu yg lebih jelek darinya,dan sungguh telah benar apa yg dikatakan Nabi Shalallaahu Alaihi Wasallam:”tidak akan datang suatu zaman kecuali zaman yg setelahnya itu lebih jelek darinya,dan sungguh benar apa yg dikatakan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullaah:”tidak ada seorangpun yg memberontak kepada pemimpin kecuali dia akan mendapatkan kejelekan lebih besar dari pada kejelekan yg dia rasakan di dalamnya,dan demikianlah di dalam selang waktu itu dan dekat waktunya dari itu telah memberontak rakyat Mesir,dan kelompok yg banyak di Mesir kepada kerajaan,dan dahulu negeri itu yg sekarang itu mengguncang dan berdemontrasi terhadap kerajaannya,ketika itu merekalah yg menggerakan untuk negeri itu dan memberontak pada raja dan pemimpin,dan dahulu di zaman itu keadaan mereka lebih baik dari pada keadaan hari ini,maka mereka yg sekarang mengguncang dan berdemontrasi kepada pemerintah,merekalah orang-orang yg mengerakan kepadanya kemarin,maka mereka mengangkat masalah dan memberontak kepada pemerintahan itu,dan mereka sekarang juga mengguncangnya dan berdemontrasi mereka membuat kekacauan dan kamu tidak mengetahui apa yg akan terjadi setelah ini ???

Dan inilah keadaan orang-orang bodoh,orang rendahan,orang-orang yg mengikuti setiap teriakkan,sesungguhnya fitnah itu membuat seseorang itu menjadi buta dan tuli,membutakan mata dan mentulikan telinga,dan dengan itu hati tidak bisa memahami,maka tidak boleh bagi manusia untuk mengikuti setiap teriakan sampai bergejolak dan bermain fitnah dengannya,lebih khusus lagi bahwasanya dibelakang peristiwa ini ada tangan-tangan yg tersembunyi,dari tangan-tangan orang-orang kafir dan munafiq,maka akan terjadi kejelekan kepada masyarakat dengan apa-apa yg tidak ada kebaikan di dalamnya,tidak ada kebaikan dunia dan tidak pula di dalam agama,dan demikianlah apa yg telah terjadi dari pengguncangan dan pemberontakan di Sudan,maka terjadilah pergerakan-pergerakan dan terjadilah apa yg terjadi kemudian mereka memberontak kepada keputusan ini,dan lihatlah apa yg terjadi di Sudan dari fitnah ini yg sangat besar dan peperangan diselatan dan musuh-musuh menguasai ahlul Islam,jika mereka berpecah belah dan bercerai-berai dan terjadilah apa yg terjadi yg membuat kelemahan mereka(Ahlul Islam –pent)dan penguasaan sebagian mereka terhadap sebagian yg lainnya,maka ambilah pelajaran wahai hamba-hamba Allaah dengan apa yg telah terjadi di Iraq dan dengan apa yg telah terjadi di Shaumali dan apa yg telah terjadi dinegara-negara lain dengan apa yg ada di dalamnya dari ayat-ayat yg ada di alam ini dari pelajaran yg tampak bagi orang yg adil,bahwasanya baginya agar tidak mengikuti setiap orang yg berteriak,iya jika di sana ada kejelekan atau disana ada kebinasaan maka haruslah diobati dengan cara yg syar’I dan cara yg benar yg menunjukan fitrah yg benar yg mana akal sehat tidak mengingkarinya,dan adapun perbuatan orang-orang yg bodoh dan pengaruh orang-orang yg bodoh dan apa yg diinginkan oleh musuh-musuh yg menghasilkan fitnah ini dan demontrasi-demontrasi,kekacauan dan kedzaliman dengan apa-apa yg kita lihat,maka sesungguhnya itu wallaahi tidaklah dengannya ada kebaikan,tidak ada kebaikan yg akan datang dengan cepat dan kebaikan yg tertunda dan tidak pula kebaikan agama dan tidak pula kebaikan dunianya bahkan itu menjadikan sebab untuk mendapatkan kejelekan yg akan datang dengan cepat dan kejelekan yg tertunda,dan kerugian tehadap agama dan kerugian terhadap dunianya,dan renungkanlah dengan rakyat yg bersiap-siap untuk memberontak kepada pemimpinnya,penguasanya dan rajanya,maka sesungguhnya mereka tidak akan mendapatkan perkaranya yg akan datang atau yg akan datang kecuali lebih jelek dari pada yg mereka rasakan sebelum itu wahai hamba-hamba Allaah telah datang diNash-Nash Syar’iyyah yg sangat banyak di dalam memperingatkan dari bab ini,dan fitnah di dalamnya sesungguhnya itu adalah sebab yg besar yg mendatangkan kejelekan kepada rakyat,maka takutlah kalian kepada Allaah,untuk berhenti di dalam batasan-batasan yg Allaah berikan dan berserah diri dengan Syari’at Allaah,bukan berbasa-basi kepada orang-orang yg besar dan bukan karena ingin berlemah lembut menghilangkan apa-apa yg wajib bagi muslim didalam kecemburuan terhadap agamanya,meninggalkan untuk memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari berbuat kejahatan dan meninggalkan kecemburuan untuk orang-orang yg dekat tetapi karena permasalahan agama kepada Allaah Rabbul ‘Aalamiin,ya Allaah perbaikilah keadaan kami dan keadaan kaum muslimiin

Ya Allaah perbaikilah keadaan pemimpin-pemimpin kami dan penguasa-penguasa kami dan jadikanlah pemerintahan kami kepada orang-orang yg takut kepada-Mu,bertaqwa kepada-Mu dan mengikuti keridhoan-Mu ya Rabbal ‘Aalamiin

Ya Allaah ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa kaum muslimiin dan jadikanlah negeri ini negeri yg aman,tentram dan juga negeri-negeri kaum muslimiin Wal Hamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin



[1] Maksudnya mendahulukan seseorang di dalam memberikan harta,pangkat,kepemerintahan dll dengan tidak benar

[2] Berkata Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Rahimahullaah diambil dari faedah itu bahwasanya meninggalkan menegakkan shalat itu seperti perbuatan kufur yg tampak,karena sabda beliau Shalallaahu Alaihi Wasallam:”tidak,kecuali jika kamu melihat perbuatan kekufuran yg tampak (Daliil Al-Faalihiin Lithuruq Riyaadh Ash-Shaalihiin 5/137)

[3] Shahiih Al-Bukhari Kitaab Al-Fitnah Bab Al-Fitnah Al-latii Tamuuju Kamaujil Bahr no 7095

[4] Ini adalah suatu istilah yg dipakai dikarenakan naik harga barang-barang termasuk roti


Sumber : catatan Ust, Fahmi Abu Bakar Jawwas, link http://on.fb.me/hllbWp